WORK LIFE BALANCE BAGI PEREMPUAN

Oleh Maulita Iqtianty

BERITA DUNIA12 July 2021

Work Life Balance bagi Perempuan

Image hanya ilustrasi

Semakin ke sini, sudah lazim rasanya perempuan memiliki peran ganda. Apalagi, bagi perempuan yang sudah menikah dan berkeluarga. Mereka dituntut untuk membantu kepala keluarga memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sekaligus menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dan anak-anaknya.

 

Berkarier atau mengurus keluarga? Seharusnya dua hal tersebut bukanlah pilihan. Keduanya bisa dijalankan bersamaan.

 

Sejak dahulu kala sampai zaman moderen sekarang ini, isu keseimbangan hidup dari seorang perempuan bekerja selalu menarik dijadikan pembahasan. Dari sisi sosial, ekonomi, bahkan agama.

 

Mengapa perempuan? Mengapa tidak laki-laki yang disorot keseimbangan hidupnya antara karier dan keluarga?

 

Dalam bukunya “The Second Sex”, de Beauvoir  berpendapat bahwa: seorang perempuan teropresi karena mereka “orang lain”, karena bukan pria. Seorang perempuan harus mampu menjadikan keberadaannya. Karena ketidakpuasannya terhadap penjelasan biologi, psikologi dan ekonomi, de Beauvoir mencari penjelasan ontologi yang diberikan pada keberadaan perempuan (women’s being). Berdasarkan pengalaman menjadi ibu dan istri, de Beauvoir mendapatkan kesimpulkan bahwa seorang wanita karier diharapkan mampu menjalankan pekerjaan secara profesional dengan tidak harus menghilangkan feminitasnya sebagai seorang perempuan. Di situlah letak ke-otherness-an seorang perempuan.

 

Baca Juga : 5 Perempuan Indonesia dalam Kancah Dunia

 

Oleh karena itu, jangan heran ketika kita melihat seorang laki-laki sibuk dengan kariernya sehingga hanya memiliki sedikit waktu untuk keluarga, maka masyarakat akan memandangnya sebagai seorang pekerja keras. Tapi jika kita melihat perempuan yang sibuk dengan kariernya sehingga ia membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, atau mengasuh anak saat ia bekerja, maka masyarakat akan memandangnya sebagai perempuan yang tidak becus mengurus keluarga.

 

Berat, memang, menjadi perempuan.

 

Di masa pandemi ini, banyak sektor yang terpukul dan pemutusan hubungan kerja di mana-mana. Tapi uniknya, melansir dari artikel Katadata, sepanjang pandemi tahun 2020, posisi pekerja perempuan malah lebih stabil ketimbang tenaga kerja laki-laki.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) misalnya mencatat, sepanjang 2020 rata-rata upah pekerja perempuan hanya turun 5,2 persen, sedangkan upah pekerja laki-laki susut 7,6 persen. Perubahan dalam beberapa tahun juga menunjukkan rata-rata upah pekerja perempuan relatif lebih stabil.

 

Tak hanya itu, pekerja laki-laki juga tercatat lebih banyak yang tersingkir dari dunia kerja, dan menjadi pengangguran dibandingkan perempuan. Jumlahnya tercatat 1,7 juta, sedangkan perempuan yang kehilangan pekerjaan hanya sekitar 900.000 orang.

 

Hal ini tentu semakin mempertajam peran ganda yang disandang oleh perempuan. Pihak suami yang kena PHK sehingga ia harus menjadi pencari nafkah utama, atau malah kembali melakukan sesuatu untuk membantu keuangan keluarga.

 

Kita semua banyak menemukan artikel-artikel yang membahas bagaimana seorang perempuan bisa menjaga keseimbangan hidup antara karier dan keluarga atau work life balance, terutama di masa pandemi.

 

Artikel tersebut akan menyarankan seorang perempuan untuk lebih mengatur jadwalnya kapan mereka bekerja, hadir di momen penting keluarga, dan bahkan waktu untuk dirinya sendiri serta bersama pasangan.

 

Sayangnya, ada satu hal penting yang tidak disebutkan di artikel atau tips untuk perempuan bekerja itu, yaitu dukungan dari pasangan dan lingkungan.

 

Dalam artikel yang ditulis di Kompas, Puan Maharani, sebagai pimpinan parlemen perempuan pertama di Indonesia mengatakan, “Perempuan dan anak perempuan merasakan dampak berat dari Pandemi Covid-19. Meski demikian, mereka punya solusi dan harapan di masa yang akan datang,”

 

Ya, salah satu solusi dan harapan bagi perempuan adalah memiliki pasangan yang mendukung karier atau mendukung perempuan untuk berdaya. Memiliki pasangan yang tak hanya menuntut rumah yang rapi, tapi juga mau turun tangan memegang sapu. Pasangan yang tak hanya menyerahkan pendidikan anak pada istri, tapi juga mau menemani anak belajar atau memandikan mereka di pagi hari. Nampaknya ini semua menjadi hal yang langka dicari.

 

Untuk itu, keseimbangan hidup pekerja perempuan tidak hanya harus diusahakan oleh mereka sendiri, tapi juga oleh lingkungan, dan terutama pasangannya. Mengutip quotes dari Charlize Theron,Marriage equality is about more than just marriage. It’s about something greater. It’s about acceptance.”

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

PERAN PEREMPUAN SEBAGAI PENJAGA KEBERAGAMAN

Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar adanya stereotip yang ditentukan berdasarkan suku, agama, atau ras tertentu. Mulai dari…

BERITA DUNIA01 July 2021

MANFAAT MEMBACA BUKU BAGI PEREMPUAN

Kemampuan membaca adalah salah satu keahlian sangat bermanfaat bagi perempuan. Melalui membaca perempuan bisa memiliki pengetahuan…

BERITA DUNIA04 September 2021

PEREMPUAN MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER

Kemajuan sebuah peradaban dalam masyarakat sangat tergantung pada peran perempuan. Perempuan mengambil peran dalam berbagai bidang.…

BERITA DUNIA14 September 2021