TENAGA KESEHATAN PEREMPUAN DI KALA PANDEMI

Oleh Maulita Iqtianty

BERITA DUNIA08 September 2021

Tenaga Kesehatan Perempuan di Kala Pandemi

Source: shutterstock.com

Masih segar di ingatan kita semua berita-berita tentang kematian tenaga kesehatan yang sedang hamil, meninggal dunia saat anak masih bayi, baru saja melahirkan, dan sebagainya. Tak hanya itu, banyak pula cerita nakes perempuan yang harus berpisah dari keluarga berbulan-bulan karena tugasnya berada di garda depan. Hal ini tentu bukan hanya menimbulkan kerinduan yang teramat sangat, tapi juga ada cerita di mana nakes perempuan tak bisa memberikan ASI  pada buah hati mereka. Entah karena jarak, tidak adanya fasilitas memadai untuk nakes yang masih menyusui, atau mereka terkena Covid 19 sehingga harus menjalani pengobatan tertentu.

 

Cerita seperti ini, bukan hanya satu, dua kali kita dengar, melainkan banyak sekali cerita sejenis yang membuat hati teriris.

 

Dari situs Kemenpppa, Dokter Relawan Penanganan Covid-19, dr. Debryna Dewi Lumanauw menceritakan pengalamannya saat bertugas di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet. Ia tidak menyangka situasinya akan lebih parah dari apa yang ia bayangkan. Ia mengaku rasanya nyaris tidak ada waktu untuk duduk beristirahat dan makan dalam satu shift. Namun, dengan adanya tenaga medis perempuan lainnya, ia merasakan adanya dukungan yang mengurangi kelelahannya.

 

“Tim saya mayoritas perempuan, justru hal tersebut menjadi sesuatu yang mampu menginspirasi saya karena kami semua bekerja dalam keadaan yang sama. Ternyata semua perempuan, tidak peduli usia dan fisiknya, bahkan ada yang baru melahirkan, tetap saja kuat dan masih melakukan pekerjaan dengan baik. Walaupun kami mengalami kelelahan fisik dan mental, namun kami sesama perempuan mampu saling menjadi dukungan yang kuat. Kami selalu mendukung satu sama lain, berdialog, curhat, sehingga secara mental kami menjadi lebih kuat,” cerita Debryna.

 

Dalam sebuah artikel di Tirto.id, disebutkan bahwa menurut Ketua Tim Peneliti Program Studi Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (MKK FKUI) Dewi Sumaryani Soemarko, beban nakes perempuan lebih berat jika dibandingkan dengan nakes laki-laki.

 

“Kalau dia (nakes perempuan) sudah berumah tangga, pasti tidak bisa terhindar dari tugas sebagai ibu rumah tangga. Pasti punya beban yang berbeda,” katanya. Dalam studi sosial, apa yang dialami para nakes perempuan ini disebut beban kerja ganda--memikul baik beban sebagai pekerja produktif di ruang publik dan pekerja reproduktif yang tak dibayar alias kerja-kerja domestik/rumah tangga. Dalam pernikahan, pekerjaan domestik bisa dikerjakan bersama atau berbagi dengan pasangan dan asisten rumah tangga. Mulai dari membersihkan rumah, masak, atau menjaga anak. Tapi sayangnya, ada pekerjaan yang tidak bisa dialihkan, contohnya menyusui.

 

Padahal, data dari Kementerian Kesehatan Indonesia 2019, jumlah nakes dari mulai dokter, perawat, dan bidan yang ada di fasilitas kesehatan didominasi oleh perempuan. 509.578 dari total 652.468 atau setara 78 persen dari perawat, bidan, dokter umum, dokter gigi, dan spesialis merupakan perempuan.

 

Tak hanya di Indonesia, Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) Rachmawati Husein mengatakan bahwa "Peran perempuan saat pandemi besar sekali. Tenaga kesehatan sebesar 70 persen dari staf tenaga medis di seluruh dunia adalah perempuan," ujar beliau seperti dilansir dari Kompas.com.

 

Mengapa perempuan mendominasi dunia kesehatan? Dan mengapa perannya begitu penting di masa pandemi ini?

 

Menurut Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Erlina Burhan, tenaga kesehatan perempuan memiliki keunggulan dalam mendekati dan memahami pasien saat berobat.

 

"Saya kira perempuan ini punya kemampuan yang sedikit lebih dalam mendekati pasien, sehingga bisa dimanfaatkan untuk memberikan edukasi kepada pasien maupun kepada keluarga," kata Erlina seperti dikutip dari Suara.com.

 

Erlina menilai, para tenaga kesehatan perempuan sudah melakukan pelayanan yang berkualitas sesuai peran mereka masing-masing terutama saat masa pandemi Covid-19. Ia mengapresiasi terhadap mereka yang mampu berperan ganda dan menyelaraskan tugasnya baik di rumah sakit, rumah, juga di masyarakat.

 

Beratnya beban yang disandang para nakes sebagai garda terdepan selama pandemi, membuat mereka berada dalam kondisi kelelahan, mengalami burnout, plus jam kerja yang semakin panjang serta ketidakpastian kapan pandemi berakhir mengancam kesehatan mental. Hal ini tentunya menjadi perhatian banyak pihak. Salah satu pihak yang cukup ‘galak’ menyerukan perhatiannya pada nakes adalah Puan Maharani.

 

 Baca juga: Perempuan Lebih Kuat Menghadapi Pandemi

 

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini meminta pemerintah membuat sistem perlindungan fisik dan mental bagi para tenaga kesehatan. Puan mengatakan, tenaga kesehatan harus mendapat perhatian karena berada di baris terdepan penanganan pandemi Covid-19 dan menghadapi risiko berkali-kali lipat dibanding kelompok lainnya.

 

"Tugas nakes bukan saja membantu kesembuhan para pasien Covid-19, tetapi juga menjaga dan melindungi dirinya serta keluarganya agar tidak ikut terinfeksi virus. Oleh karena itu, kami meminta pemerintah membuat sistem perlindungan untuk nakes, baik secara fisik maupun mental," kata Puan seperti dikutip dari artikel di Kompas.com.

 

Apalagi berdasarkan data yang dihimpun oleh Persatuan Rumah Sakit Indonesia bersama sejumlah organisasi lainnya seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) per 28 Juni 2021 menyatakan bahwa hampir 1.031 tenaga kesehatan telah gugur.

 

Tak hanya meminta perlindungan fisik dan mental, Puan juga kerap kali menyinggung soal insentif nakes di beberapa kesempatan. Puan prihatin dengan data pencairan insentif tenaga kesehatan (nakes) di daerah yang timpang dibandingkan realisasi tahun lalu. Dia meminta pemerintah daerah lebih gesit dalam menyalurkan hak para pejuang kesehatan.

 

"Segera bayarkan insentif untuk nakes yang adalah ujung tombak sekaligus pihak paling berisiko terpapar dalam penanganan Covid-19," tegas Puan, dilansir dari Merdeka.com. Puan menyoroti sejumlah laporan tentang insentif yang tak kunjung diterima nakes. Selain itu, dia juga menerima sejumlah laporan, mulai dari potongan insentif, pengalihan peruntukan, hingga besaran insentif yang menjadi pertanyaan nakes. "Mereka bertaruh nyawa dan juga keluarga. Juga sandaran bagi rakyat yang terpapar Covid-19. Karenanya, tidak ada alasan untuk tidak segera memberikan insentif yang adalah hak mereka," ujarnya.

 

Oleh karena itu, Puan juga mengajak masyarakat luas untuk terus mengapresiasi para tenaga kesehatan yang sedang bekerja keras menangani pandemi.

 

"Atau kalau belum bisa mengapresiasi, minimal masyarakat, khususnya keluarga pasien, agar menghindari selisih paham atau tuduhan-tuduhan yang kontra-produktif kepada para nakes, sehingga tidak melemahkan mental dan fisik mereka,” ujar Puan dikutip dari artikel Kompas.com.

 

Ya, karena sekecil apapun peran kita dalam memerangi pandemi ini, sesungguhnya sangat berarti. Semoga pandemi, segera berakhir sehingga Indonesia bisa bangkit kembali.

 

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

TIPS MENYEIMBANGKAN KARIER DAN KELUARGA BAGI PEREMPUAN

  Saat ini, perempuan bekerja bukanlah sesuatu yang asing lagi. Bahkan, banyak temuan yang menyebut bahwa perempuan lebih mudah…

BERITA DUNIA23 July 2021

5 PEREMPUAN INDONESIA DALAM KANCAH DUNIA

Banyak perempuan Indonesia yang sangat berprestasi dan mendapatkan berbagai penghargaan di dalam maupun luar negeri. Perempuan memang…

BERITA DUNIA29 July 2021

PUAN MAHARANI DAN RAGAM BUSANA DAERAH DI INDONESIA

Sebagai negara kepulauan dengan beragam etnis dan suku, Indonesia memiliki banyak sekali kekayaan budaya. Tak hanya bahasa, adat istiadat,…

BERITA DUNIA05 October 2021