TANTANGAN MENJADI IBU DI ERA DIGITAL

Oleh Indira Suwarno

BERITA DUNIA18 July 2021

Tantangan Menjadi Ibu di Era Digital

Hidup di era digital dapat menguntungkan sekaligus

Pernah dengar nggak, sebuah kalimat yang menyatakan bahwa 'Jadi orangtua itu nggak ada sekolahnya'? Ilmu menjadi orangtua bisa dibilang memang bagaikan warisan yang diberikan secara turun temurun.

 

Dulu sebelum hadirnya internet, para ibu menjalankan perannya berdasarkan pengalaman sendiri serta apa kata dokter dan orangtua.

 

Sementara sejak hadirnya dunia digital, semua orang memiliki akses lebih luas terhadap apapun yang mereka ingin ketahui. Beribu media online yang membahas mengenai hal pola asuh ada. Belum lagi hadirnya media sosial yang mengubah referensi seseorang terhadap sesuatu. Para influencer atau key opinion leader memiliki pengaruh yang kuat terhadap seseorang dalam memutuskan sesuatu, termasuk pola asuh.

 

Hal ini tentu menjadi hal yang menguntungkan sekaligus ‘mengerikan’. Keuntungannya, kita bisa mendapatkan banyak informasi, kekurangannya, jika tidak cermat memilih sumber yang tepat, bisa saja membawa dampak yang kurang baik terhadap kehidupan kita sebagai orangtua.

 

Misalnya, kebiasaan para selebriti membagikan kehidupan pribadi mereka, membuat kita berpikir bahwa ini adalah hal yang biasa. Padahal, banyak bahaya mengintai di sana. Contoh, melansir berita di Kompas, foto anak seorang selebgram, Syahnaz Sadiqah, diunggah ke akun jual beli bayi. Menyeramkan, ya?

 

Tak hanya sampai di situ, tantangan lain di era digital ini adalah anak-anak mulai kecanduan gadget. Di bulan Desember 2020, Katadata merilis sebuah data di mana ada 29% anak usia dini di Indonesia menggunakan telepon seluler dalam tiga bulan terakhir. Rinciannya, bayi yang berusia kurang dari satu tahun sebesar 3,5%, anak balita 1-4 tahun sebesar 25,9%, dan anak prasekolah 5-6 tahun sebesar 47,7%.

 

Memang, penggunaan gadget ada manfaatnya. Misalnya dapat mengakses pengetahuan atau bahan pelajaran dengan mudah, mempermudah komunikasi di situasi darurat, serta memberikan hiburan.

 

Namun di balik manfaatnya, psikolog Anak dan Keluarga dari Klinik SOA, Hanlie Muliani, M.Psi lewat sebuah artikel di Sehatq menyarankan agar orangtua lebih memahami pengaruh penggunaan gadget berlebih pada plastisitas otak anak.

 

Baca Juga : 5 Kendala yang Ditemui Perempuan kala Menjadi Pemimpin

 

Plastisitas otak adalah konsep yang menjelaskan bahwa otak adalah organ yang elastis, dalam artian bisa terus dibentuk dan dilatih. Agar dapat digunakan dengan maksimal, perlu ada sambungan neuron atau sel saraf, yang bisa dicapai dengan stimulasi.

 

Stimulasi bisa dilakukan dengan aktivitas seperti belajar, membaca, bermain, olahraga, serta kegiatan psikomotoris lainnya.

 

Semakin banyak stimulasi yang diterima, akan semakin banyak juga sel saraf di otak yang tersambung. Artinya, anak akan semakin cerdas.

 

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang ibu untuk menjawab tantangan di era digital ini:

Mengedukasi Diri Sendiri

Anak-anak kita saat ini termasuk dalam Gen Z atau bahkan Gen Alpha. Generasi ini lahir ketika internet sudah ada. Mereka generasi yang ‘melek’ digital. Oleh karena itu, kita perlu meng-upgrade diri sendiri untuk tidak kalah cerdas dari mereka. Jangan sampai kita bangga akan ke’gaptek’an diri sendiri, ya.

 

Membangun Komunikasi

Untuk anak-anak balita, kita masih mungkin memantau konten-konten apa yang mereka dapatkan di gadget-nya. Bagaimana dengan mereka yang sudah beranjak remaja?

Komunikasi terbuka yang dipupuk sejak dini, anak bisa bercerita atau bertanya tentang apa saja pada orangtua. Jadi kalau pun mereka mendapatkan konten tertentu di dunia digital, mereka tidak akan ragu untuk menceritakannya pada orang tua.

Sejak pandemi, karen adanya kebijakan belajar dan bekerja dari rumah, waktu seseorang bersama keluarga lebih banyak. Tak bisa dipungkiri, banyak juga orang tua yang merasa hal ini cukup membebani mereka bahkan sampai stres. Puan Maharani, Ketua DPR RI,  mengatakan bahwa seharusnya hal ini bisa diatasi dengan adanya pembagian tugas antara orang tua. “Biasanya kan yang bantu anak mengerjakan PR sekolah atau tugas-tugas lain itu ibu. Padahal ibu juga masih ada yang harus bekerja meskipun work from home. Berbagi tugas supaya orang tua tidak burnout, karena kan mengasuh anak butuh kesabaran ekstra,” ungkap Puan.

 

Menjaga Keamanan Keluarga

Hal ini dampaknya bukan hanya pada kenyamanan, tapi juga keamanan. Terkadang seseorang ‘lupa’ mengunggah banyak hal ke media sosial, termasuk hal pribadi mereka seperti lokasi rumah, sekolah anak, kegiatan sehari-hari, dan seterusnya. Dengan semakin maraknya kejahatan yang dimulai dari dunia digital, hal ini menjadi makanan empuk bagi para penjahat.

Terapkan peraturan agar anak beraktivitas secara aman di dunia digital. Misalnya, pantau penggunaan gadget anak mulai dari durasi, lokasi, sampai apa saja yang mereka gunakan saat memegang gadget. Selain itu, orangtua juga bisa mencoba berbagai aplikasi atau games yang mereka mainkan di gadget mereka, apakah itu sesuai dengan usia mereka?

 

Memanfaatkan Gadget untuk Hal Positif

Ya, seperti sudah disebut di atas, dunia digital banyak memberikan warna baru dalam kehidupan seseorang. Oleh itu, kenalkan anak pada hal-hal positif dari gadget-nya. Misal, manfaatkan gadget untuk belajar dengan cara yang menyenangkan, bertegur sapa dengan anggota keluarga lain yang berjauhan, dan seterusnya.

Oiya, hal ini termasuk mendapatkan informasi yang bermanfaat bagi keluarga, ya. Misalnya, berita dari liputan 6 tentang ajakan Ketua DPR RI, Puan Maharani, agar para orang tua untuk memvaksinasi anak-anaknya di sentra vaksinasi Covid-19. Hal itu disampaikan Puan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengizinkan penggunaan vaksin Sinovac Bio Farma untuk anak-anak usia di atas 12 tahun ke atas.

 

Terakhir, Menjadi Contoh

Anak adalah produk kebiasaan. Ia akan mencontoh apa yang kita lakukan, bukan yang kita katakan. Jadi, jika kita tak ingin anak terlalu lama sibuk dengan gadget-nya, kita pun harus memiliki waktu untuk ‘lepas’ dari gadget. Mungkin untuk poin ini, introspeksi adalah kata yang tepat.

 

Ya, rasanya, setiap generasi memiliki tantangan masing-masing dalam menjalani perannya menjadi seorang ibu. Dengan atau tanpa dunia digital, sesungguhnya menjadi orangtua adalah lifetime learning. Karena memang menjadi orangtua nggak ada sekolahnya.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

CARA MUDAH AKTIF BEROLAHRAGA DI RUMAH

  Menjaga kebugaran fisik dan mental di kala pandemi sangat penting untuk meningkatkan imunitas tubuh. Orang-orang yang menjaga…

BERITA DUNIA22 July 2021

5 PEREMPUAN INDONESIA DALAM KANCAH DUNIA

Banyak perempuan Indonesia yang sangat berprestasi dan mendapatkan berbagai penghargaan di dalam maupun luar negeri. Perempuan memang…

BERITA DUNIA29 July 2021

PENTINGNYA ASI BAGI MASA DEPAN BANGSA

Bicara soal perempuan, tentu tak bisa dilepaskan dari perannya sebagai seorang ibu. Bicara peran perempuan sebagai seorang ibu, maka…

BERITA DUNIA15 September 2021