PUAN MAHARANI, “SEBAIKNYA, JANGAN MENIKAH DINI!”

Oleh Melati Sukma

BERITA DUNIA28 October 2021

Puan Maharani, “Sebaiknya, Jangan Menikah Dini!”

Source: shutterstock.com

Belakangan ini semakin banyak terdengar berita-berita soal pernikahan dini di Indonesia. Memang, bukan berita baru. Tapi baru-baru ini, ada berita yang cukup marak dibicarakan di dunia maya tentang seorang anak perempuan berusia 15 tahun, NK, yang dinikahkan dengan tokoh agama di Kabupaten Buru Selatan, Maluku. Menurut pengakuan ayah NK, yang seorang tokoh agama juga, pernikahan ini merupakan keinginan putrinya.

Pernikahan NK, menjadi pembicaraan karena kekompakan pihak sekolah dan teman-teman NK yang menggelar demonstrasi di Kantor Wilayah Kementerian Agama Buru Selatan dan DPRD Buru Selatan. Mereka berunjuk rasa menolak pernikahan karena merasa khawatir bahwa hal ini dapat berimbas kepada para siswa lainnya

Pernikahan dini yang terjadi pada NK, bukan yang satu-satunya terjadi di Indonesia. Dilansir dari Bisnis.com, data dari tahun 2018, 1 dari 9 anak Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun. Sebanyak 1,2 juta perempuan menikah sebelum 18 tahun. Indonesia termasuk dalam 10 negara yang memiliki angka prevalensi menikah yang tinggi. Sejak 2008 hingga 2018 angka prevalensi pernikahan anak hanya menurun 3,5 persen. Bahkan, selama pandemi Covid-19, pernikahan anak semakin meningkat.

Menurut data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama yang diolah KPPPA, sejak Januari hingga Juni 2020, terdapat sekitar 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang masuk ke pengadilan agama.

Dari permohonan dispensasi ini, sekitar 97% permohonan dispensasi itu dikabulkan, yang berarti perkawinan diizinkan. Ya, walaupun ada ketentuan batas usia seseorang boleh dinikahkan, tapi ada celah untuk melegalkan pernikahan anak melalui dispensasi. Dispensasi ini diatur UU No.16/2019, yang mengubah usia minimal perkawinan menjadi 19 tahun baik untuk laki-laki dan perempuan

Fakta yang menyedihkan dari pernikahan anak ini adalah banyak kasus yang justru didorong oleh orang tua atau keluarga. Entah karena desakan ekonomi, faktor hamil di luar nikah, sampai alasan sederhana seperti, “Menghindari zinah’.

Alasan lain adalah maraknya konten mengenai menikah muda di media sosial. Baik yang datang dari komunitas tertentu, sampai selebriti yang menampilkan citra ‘asiknya menikah muda’. Hal ini tentu mengundang remaja putri bermimpi bahwa menikah adalah salah satu jalan pintas untuk mendapatkan kebahagiaan.

Padahal dalam praktiknya, menikah muda tak selalu berjalan mulus. Masih segar dalam ingatan kita tentang seorang selebgram yang menikah ketika ia berusia 18 tahun, Salmafina. Usia pernikahan Salmafina saat itu hanya berjalan selama 2 bulan dengan Taqy Malik, seorang pria yang dikenal sebagai sosok yang religius.

Mengenai pernikahan dini, Salmafina mengatakan "Pernikahan membutuhkan komitmen dan menikah muda adalah ide yang buruk di zaman kita. Karena generasi kita sangat tidak dewasa dalam hal komitmen. Ini sebagian karena media sosial dan ini sebagian karena tidak memahami sifat pernikahan dan apa artinya itu. Aku dan kalian sebagai generasi muda biasanya terlalu muda untuk berkomitmen dalam pernikahan dan membangun keluarga," kata Salma seperti dikutip dari Suara.com.

Pernikahan dini memang menjadi sorotan banyak pihak, salah satunya Puan Maharani. Puan mengaku, pernikahan merupakan hal yang sakral. Bahkan ia sendiri baru memutuskan menikah setelah 8 tahun berpacaran.

Bicara soal pernikahan dini, Puan yang pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, cukup keras menentang hal ini. Ia kerap mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memutus rantai pernikahan anak di Indonesia.

“Sebenarnya ini kasus per kasus yang memerlukan kesadaran dari seluruh elemen bangsa. Beberapa waktu lalu kita juga sudah pernah mengusulkan ke MK bahwa pernikahan sebaiknya minimal 18 tahun, tapi kan belum terjadi," jelas Puan, seperti dikutip dari IDNtimes.com. Menurutnya, harus ada kesadaran semua pihak bahwa seorang anak yang menikah di usia belia belum siap secara mental dan fisik. "Jangan menikah di usia dini atau di bawah usia 18 tahun," tegasnya.

Salah satu upaya yang dilakukan Puan ketika menjabat sebagai Menko PMK untuk mengurangi pernikahan dini dan menurunkan angka Kematian Ibu dan Anak (KIA) adalah dengan lebih memerhatikan sektor pendidikan.

“Kita memberikan program KIP sebanyak 19,7 juta kepada siswa mulai SD, SMP dan SMA. Selain itu juga ada program keluarga Harapan (PKH) kepada 10 juta keluarga penerima manfaat yang dilaksanakan mulai bulan Januari tahun ini,” paparnya, mengutip dari krjogja.com.

Pernikahan dini merupakan isu yang serius. Tak hanya menempatkan remaja putri dalam risiko tinggi terhadap kehamilan dini dan kehamilan tidak diinginkan, tapi pernikahan dini lekat dengan konsekuensi ancaman kehidupan seperti kematian pada ibu saat proses melahirkan, serta bayi cacat lahir.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

LIMA MANFAAT MINUM KOPI

Bagi banyak orang, kopi adalah sebuah kenikmatan rutin yang diminum setiap hari. Tak heran, kopi menjadi salah satu minuman terfavorit…

BERITA DUNIA09 August 2021

DUO SRIKANDI INDONESIA PERAIH MEDALI EMAS DI LAGA OLIMPIADE 2020

Gempita Olimpiade Tokyo 2020 masih hangat terasa. Kebanggaan dan nasionalisme kembali membuncah di dada saat menyaksikan lagu Indonesia…

BERITA DUNIA10 August 2021

5 KENDALA YANG DITEMUI PEREMPUAN KALA MENJADI PEMIMPIN

Saat ini, posisi pemimpin tak lagi dimonopoli oleh kaum pria. Perempuan pun banyak yang menduduki posisi pemimpin di berbagai aspek…

BERITA DUNIA09 July 2021