PUAN MAHARANI: GENCARKAN LITERASI KEUANGAN, HINDARI PINJAMAN ONLINE

Oleh Melati Sukma

BERITA DUNIA02 November 2021

Foto Artikel Puan Maharani; Gencarkan Literasi Keuangan, Hindari Pinjaman Online

Source: shutterstock.com

Belakangan ini kalau kita melihat berita di televisi, media cetak, online, bahkan media sosial, marak sekali soal pinjaman online. Pinjaman online, atau dikenal dengan pinjol, memang menjadi isu yang cukup serius belakangan ini.

Jika melihat ke belakang, pinjol berawal dari fintech P2P lending yang mulai berkembang dan diketahui masyarakat Indonesia pada tahun 2016.

Saat itu, layanan pinjaman online, lebih sering digunakan untuk membantu UMKM atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah lokal.

Hal ini karena pinjaman online untuk UMKM, bisa memudahkan mereka dalam mengembangkan bisnis, tanpa adanya agunan atau jaminan. Prosesnya yang cepat, juga sangat mempercepat UMKM dalam mendapatkan pinjaman.

Tapi seiring berjalannya waktu, di tahun 2018, OJK menemukan ada lebih dari 200 pinjol ilegal. Keberadaan pinjol yang makin menjamur dan adanya kemungkinan meresahkan di kalangan masyarakat, membuat OJK mengimbau agar para pengusaha pinjol mendaftarkan usaha mereka ke OJK.

Apa yang membuat isu pinjol semakin hangat dibicarakan di kalangan masyarakat? Tak lain banyaknya korban yang terlilit utang, karena bunga yang ditawarkan pinjol bisa dikatakan tak masuk akal.

Misalnya seperti mengambil contoh dari Kompas.com, seorang guru di Semarang yang terlilit utang hingga 200 juta rupiah, padahal pinjaman awalnya hanya di angka 3,7 juta rupiah saja. Ada juga cerita Rika yang dikutip dari IDXchannel.com, di mana ia harus membayar utang dengan bunga Rp500.000 per hari akibat selama pandemi, gaji Rika dan suami mengalami pemotongan.

Ya, saat pandemi, tidak sedikit perempuan baik yang ibu rumah tangga, ibu tunggal, atau bahkan ibu bekerja, menghadapi kesulitan finansial. Jalan pintasnya? Pinjol.

Hal ini ditegaskan oleh Dosen Sosiologi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyu Kustiningsih pada Kompas.com, yang menyatakan bahwa perempuan lebih rentan akan isu ekonomi. Di masa normal saja perempuan sudah rentan, maka pandemi semakin menambah beban perempuan.

Tak hanya OJK, pemerintah pun mulai memerhatikan isu pinjol ini, termasuk Puan Maharani. Menyikapi berita-berita soal penutupan pinjol ilegal, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Puan Maharani meminta agar penindakan hukum atas kejahatan pinjaman online ilegal harus menjerat sampai ke pemilik atau pemodalnya.

“Penindakan jangan sampai terhenti sampai di operator atau pekerjanya, tapi harus sampai bos atau pemiliknya,” kata Puan seperti dikutip dari Tempo.co.

Puan mengatakan, jika penindakan hanya sampai di operator, tidak akan ada efek jera untuk para pemiliknya. Juga ada kemungkinan mereka akan kembali membuka pinjol ilegal dengan merekrut pekerja baru.

Puan juga mendorong agar praktik pinjaman online ilegal ditumpas hingga ke akar-akarnya, agar tidak ada lagi jeritan rakyat yang data pribadinya disalahgunakan dan diintimidasi.

Nah, terkait data pribadi yang disalahgunakan dan adanya intimidasi, banyak sekali cerita yang kita dengar di mana mereka yang tak sanggup dengan jeratan bunga pinjol, sampai memilih melakukan tindakan kriminal, atau bahkan sampai mengakhiri hidupnya.

Masih dari artikel yang sama, Puan mengajak pemerintah untuk menyelesaikan rancangan undang-undang atau RUU Perlindungan Data Pribadi demi mencegah penyalahgunaan data pribadi warga, dan menghukum pelakunya lebih berat. Sebab, pelaku pinjol ilegal hanya dijerat dengan KUHP, UU ITE, dan UU Perlindungan Konsumen.

Puan juga mendorong pemerintah untuk terus menggencarkan literasi digital dan literasi keuangan ke masyarakat, dalam rangka pencegahan dari jeratan utang dari praktek pinjol, baik yang ilegal maupun tidak.

“Kalau pencegahan dan penindakan bisa berjalan bersamaan, masyarakat akan semakin terlindungi dari jeratan lintah darat digital ini,” ucap Puan Maharani.

Menghadapi pinjol, tak hanya dibutuhkan peran pemerintah, tapi juga di kalangan masyarakat. Lebih lanjut, Dosen Sosiologi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyu Kustiningsih mengatakan bahwa kita perlu memperkuat supporting system di lingkungan masyarakat. Saat ada salah satu warga yang terjerat pinjol diharapkan tetangga dapat memberikan dukungan atau bantuan dalam mencari solusi.

"Masyarakat bisa menginisiasi gerakan bersama menghadapi krisis saat pandemi termasuk persoalan ekonomi seperti pinjol semisal dengan membangun kelompok-kelompok usaha kecil. Kalau ini tidak dilakukan akan banyak yang tertekan sehingga solidaritas sosial penting," terangnya.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

5 KENDALA YANG DITEMUI PEREMPUAN KALA MENJADI PEMIMPIN

Saat ini, posisi pemimpin tak lagi dimonopoli oleh kaum pria. Perempuan pun banyak yang menduduki posisi pemimpin di berbagai aspek…

BERITA DUNIA09 July 2021

BEGINI ISTIMEWANYA “ITAEWON CLASS”, DRAKOR FAVORIT PUAN MAHARANI

Demam budaya Korea sedang melanda dunia. Selain K-pop yang diwakili BTS dan Blackpink, masyarakat di berbagai negara juga jatuh cinta…

BERITA DUNIA07 October 2021

PUAN MAHARANI PERNAH ME-LOCK-DOWN MEGAWATI

Hubungan seorang ibu dan anak perempuan sangatlah penting. Dari ibu lah kecerdasan seorang anak akan menurun. Ibulah yang mengajarkan…

BERITA DUNIA01 November 2021