PUAN MAHARANI DAN RUMITNYA ISU KETIMPANGAN GENDER

Oleh Indira Suwarno

BERITA DUNIA21 October 2021

Puan Maharani dan Rumitnya Isu Ketimpangan Gender

Source: shutterstock.com

Di Indonesia, perempuan masih sering diperlakukan sebagai masyarakat kelas dua. Hal itu diungkapkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) dalam laporan bertajuk Human Development Report 2018. Indeks Ketimpangan Gender (Gender Inequality Index/GII) di Indonesia termasuk yang tertinggi di ASEAN. Indonesia tercatat di peringkat keempat setelah Kamboja, Laos, dan Myanmar.

Temuan kesenjangan gender itu cukup ironis mengingat Indonesia mengklaim diri sebagai negara demokrasi. Selain itu, dalam sejarahnya, Indonesia pernah dipimpin oleh seorang presiden perempuan. Menteri dan pejabat kementerian perempuan juga lazim ditemui. Kemudian, kepala pemerintahan perempuan juga banyak ditemui di berbagai wilayah, dari kelurahan, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.

Sementara di bidang legislatif, UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, dan UU No 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat telah telah mengamanatkan kuota 30% bagi perempuan di kursi legislatif. Bahkan, saat ini, posisi Ketua DPR RI dijabat perempuan, yakni Puan Maharani.

Puan pun mengakui hal itu. Menurutnya, jika Indonesia ingin lebih maju daripada kondisi saat ini, perempuan harus didorong agar bisa berperan serta dalam berbagai lini dan tidak dibatasi kiprahnya.

Menurutnya, saat ini sudah banyak sekali perempuan Indonesia yang turut andil dalam kemajuan bangsa Indonesia. Hal tersebut tak lepas dari banyak jumlah perempuan di Indonesia.

"Seperti yang Bung Karno pernah sampaikan bahwa laki-laki dan perempuan adalah dua sayap seekor burung. Apabila dua sayapnya sama kuatnya, maka terbang lah burung tersebut sampai ke puncak. Jika patah satu daripada dua sayap itu, maka tidak dapatlah terbang burung itu sama sekali," ujar Puan seperti dilansir kumparan.

Pernyataan Puan itu mengartikan bahwa perempuan dan laki-laki terlahir untuk saling melengkapi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang sama. Sayangnya, kredibilitas perempuan dalam memimpin atau menjalankan suatu pekerjaan masih sering dipertanyakan dan diragukan oleh beberapa pihak.

Puan menyebutkan, sudah banyak perempuan Indonesia yang telah menorehkan prestasinya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mulai dari pentas olahraga, sains, hingga edukasi.

"Semuanya itu menunjukkan bahwa jika ingin Indonesia maju dalam berbagai bidang, maka diperlukan peran laki-laki dan perempuan. Singkatnya, ketika perempuan Indonesia maju, maka Indonesia akan ikut maju," tambahnya.

Puan juga mengingatkan bahwa perempuan masih menghadapi berbagai kendala yang datang dari kehidupan sosial, budaya, ekonomi, maupun politik. Maka itu penting untuk meyakinkan banyak orang bahwa menyertakan perempuan dalam proses pembangunan bukanlah hal yang sia-sia.

"Saya yakin bahwa masa depan Indonesia cerah, karena kita memiliki perempuan-perempuan hebat. Tantangan seberat apapun, Insyaallah dapat diatasi dengan saling bergotong royong," harapnya.

Dalam skala budaya, menurut Puan, perempuan Indonesia dibesarkan oleh budaya leluhur sehingga mereka memiliki tekad untuk melestarikannya. Perempuan bisa dibilang memegang peran penting dalam pelestarian budaya bangsa. Bahkan, tak sedikit sosok perempuan Tanah Air yang diakui oleh dunia karena prestasinya.

Dengan demikian, perempuan memiliki berbagai bentuk peran untuk mempertahankan benteng budaya nasional. Sebagai agen budaya, perempuan memiliki peran sentral dan berkontribusi besar dalam menciptakan sekaligus mempertahankan pelestarian produk kebudayaan yang ada dalam masyarakat.

Lantas apa saja langkah-langkah yang bisa dilakukan perempuan untuk mengurangi masalah ketimpangan gender sekaligus memberdayakan sesama perempuan, terutama untuk generasi di masa depan?

 

1.    Mulai dari lingkup terkecil

“Every journey starts with a small step”, demikian bunyi pepatah. Karena itu, untuk ide-ide besar, segalanya bisa dimulai dari hal-hal kecil. Salah satunya adalah keluarga sendiri.

Jika Anda memiliki anak perempuan, ajari dia untuk percaya diri dan tidak mudah terintimidasi lawan jenis. Perempuan harus pintar, tidak kalah dengan laki-laki karena baik perempuan maupun laki-laki sama-sama memiliki kesempatan untuk maju yang setara.

Jika Anda memiliki anak lelaki, ajari dia untuk menghormati perempuan dan memperlakukannya sebagai mitra setara. Dengan demikian di masa depan, laki-laki dan perempuan bisa berkompetisi sejajar karena memiliki kemampuan yang sama.

 

2.    Edukasi anak tanpa melihat gender

Anak perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan anak laki-laki, begitu pula sebaliknya. Untuk itu, jangan beda-bedakan jenis dan tingkat pendidikan untuk anak-anak Anda karena semua berhak untuk mendapatkan akses Pendidikan setinggi mungkin.

Selain itu, stop memberikan stereotip pada pekerjaan rumah tangga. Baik laki-laki maupun perempuan sebaiknya diajari memasak, mencuci, membersihkan rumah, dsb sedari kecil. Sebab, jenis pekerjaan tersebut adalah basic life skill yang harus dimiliki semua orang, bukan hanya perempuan.

 

3.    Bebaskan anak untuk memilih profesi sesuai minat dan kemampuan

Hinga kini, terdapat stereotip untuk beberapa pekerjaan. Perempuan biasanya didorong untuk bekerja di sektor-sektor domestik, pendukung, maupun jasa. Sementara laki-laki didorong untuk bekerja menjadi pemimpin di berbagai bidang.

Padahal, dengan kemampuan yang setara, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk bekerja di bidang-bidang yang mereka minati. Bahkan, sudah tidak zamannya lagi menganggap perempuan tabu untuk menjadi pemimpin, entah di perusahaan maupun pemerintahan.

Kalau mampu, kenapa tidak?

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

PUAN MAHARANI MENUNTUT PERAN NEGARA MAJU DALAM PENANGANAN PERUBAHAN IKLIM

Isu perubahan iklim adalah salah satu permasalahan global yang kini dampaknya telah terasa di berbagai negara. Di Indonesia sendiri,…

BERITA DUNIA03 November 2021

TANTANGAN MENJADI IBU DI ERA DIGITAL

Pernah dengar nggak, sebuah kalimat yang menyatakan bahwa 'Jadi orangtua itu nggak ada sekolahnya'? Ilmu menjadi orangtua bisa dibilang…

BERITA DUNIA18 July 2021

CARA BEKERJA SAMA DENGAN GENERASI Z

Bicara tentang generasi produktif, saat ini generasi milenial bukan lagi generasi yang sering dibicarakan. Kini banyak orang sudah…

BERITA DUNIA22 October 2021