PERNIKAHAN DINI DAN MASA DEPAN PEREMPUAN

BERITA DUNIA28 August 2021

Pernikahan Dini dan Masa Depan Perempuan

Gambar hanya ilustrasi.

Selama beberapa tahun belakangan ini, pernikahan di usia muda menjadi tren tersendiri, terutama setelah para pelakunya berkampanye di media sosial. Beberapa influencer maupun public figure juga ikut mempopulerkan pernikahan dini. Walaupun mereka tidak secara langsung mengkampanyekan gaya hidup ini, tetapi pilihan para public figure ini turut mempengaruhi para followers mereka yang kemudian ikut-ikutan ingin menikah muda juga.

 

Padahal, tak sedikit dari para pelaku nikah muda di media sosial yang harus menelan pil pahit dan bercerai di usia muda juga. Salah satu yang menghebohkan baru-baru ini adalah Alvin Faiz, putra almarhum da’i kondang, Arifin Ilham.

 

Menikah di usia 17 tahun, Alvin kini telah bercerai dari Larissa Chou yang dinikahinya selama 5 tahun dan memberinya seorang putra. Berselang beberapa bulan, Alvin kemudian menikah lagi dengan mantan istri sahabatnya sendiri, yang juga sama-sama menikah dan bercerai di usia muda.

 

Selain itu, ada pula tren berlomba-lomba punya anak banyak di usia belia. Tren ini hadir di media sosial TikTok. Terdapat 2 video dari 2 orang perempuan muda yang sedang hamil. Mereka asyik berjoget dengan background tulisan tahun kelahiran dan hamil anak ke berapa.

 

Perempuan pertama mengaku kelahiran 1997 dan sedang hamil anak ke-5. Sementara perempuan kedua mengaku kelahiran 2003 dan sedang hamil anak ke-4. Jika dirunut ke belakang, berarti keduanya hamil dan menikah pada usia sangat belia.

 

Fenomena menikah muda ini sebenarnya memprihatinkan karena menempatkan perempuan pada posisi lemah, baik itu dilihat dari sisi kesehatan, finansial, mental, maupun pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah pun berupaya memperbaikinya dengan melakukan revisi UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadi UU Nomor 16 Tahun 2019.

 

Yang direvisi adalah aturan usia pernikahan bagi perempuan. Pada UU Nomor 1 Tahun 1974, usia pernikahan perempuan adalah 16 tahun. Kini, lewat UU Nomor 16 Tahun 2019, usia pernikahan perempuan menjadi setara dengan laki-laki, yakni 19 tahun.

 

Usia pernikahan perempuan itu berhasil diubah melalui perjuangan para aktivis selama bertahun-tahun. Meski begitu, tetap ada klausa khusus yang memperbolehkan perempuan menikah di bawah usia 19 tahun. Celah itulah yang kerap dipergunakan sebagian masyarakat untuk menikahkan anak mereka di bawah umur.

 

Padahal, berbagai risiko mengintai perempuan yang menikah muda. Apa saja risiko itu?

1.   Risiko kesehatan

Organ reproduksi anak di bawah umur sebenarnya belum matang betul untuk hamil dan melahirkan. Wanita yang masih muda masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Jika ia hamil, maka pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya akan terganggu. Oleh karena itu, sejumlah risiko kesehatan mengancam jiwa para perempuan yang menikah dan hamil di usia belia. Di antaranya:

-       Tekanan darah tinggi. Hamil di usia remaja berisiko tinggi terhadap tingginya tekanan darah. Seseorang mungkin dapat mengalami preeklampsia yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, adanya protein dalam urine, dan tanda kerusakan organ lainnya.

-       Anemia. Anemia disebabkan karena kurangnya zat besi yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Anemia saat hamil dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur dan kesulitan saat melahirkan.

-       Bayi lahir prematur dan BBLR. Bayi prematur biasanya memiliki berat badan lahir rendah (BBLR) karena sebenarnya ia belum siap untuk dilahirkan. Bayi lahir prematur berisiko mengalami gangguan pernapasan, pencernaan, penglihatan, dan kognitif.

-       Ibu meninggal saat melahirkan. Perempuan di bawah usia 18 tahun yang hamil dan melahirkan berisiko mengalami kematian saat persalinan. Ini karena tubuhnya belum matang dan belum siap secara fisik saat melahirkan.

 

2.   Melahirkan anak stunting

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan World Health Organization (WHO) di Indonesia, pernikahan dini menjadi salah satu penyebab tingginya angka stunting di Tanah Air. Di Indonesia, sebesar 43,5 persen kasus stunting terjadi pada anak berumur di bawah tiga tahun (batita) dengan usia ibu 14-15 tahun. Sementara 22,4 persen terjadi pada batita dengan rentang usia ibu 16-17 tahun.

 

Lantas, apa hubungan antara stunting dengan pernikahan dini? Saat menikah di usia belia, rata-rata perempuan belum matang secara psikologis. Mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehamilan dan pola asuh anak yang baik dan benar.

 

Selain itu, para remaja ini sesungguhnya masih membutuhkan gizi maksimal hingga usia 21 tahun. Nah, jika mereka sudah menikah dan hamil pada usia dini, maka tubuhnya akan berebut gizi dengan bayi yang dikandungnya.

Kombinasi semua hal itu pun bisa menyebabkan janin di dalam kandungan kekurangan gizi dan lahir dalam kondisi stunting. Atau, meski lahir normal, bayi tetap berpotensi stunting jika sang ibu tidak paham dengan kebutuhan gizi dan pola asuh yang benar.

 

Stunting sendiri merupakan ancaman bagi masa depan generasi bangsa. Sebab, stunting akan mengakibatkan penurunan produktivitas dan kualitas SDM. Pasalnya, stunting memiliki dampak buruk jangka pendek maupun panjang.

 

Untuk jangka pendek, anak yang menderita stunting akan mengalami gangguan pada perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan metabolisme tubuh. Sedangkan untuk jangka panjang, anak-anak yang menderita stunting akan mengalami menurunnya kekebalan tubuh, dan berisiko tinggi terhadap penyakit  generatif seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung, dan kanker di usia dewasa.

 

3.   Kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan

Di Indonesia, sekolah formal melarang siswi yang sudah menikah untuk melanjutkan pendidikan. Alhasil, para perempuan yang menikah di usia belia terpaksa drop out dari sekolah. Kalaupun ingin melanjutkan pendidikan, mereka hanya bisa melakukannya melalui program khusus seperti Kejar Paket A, B, dan C.

 

Namun, tak banyak perempuan yang bisa memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lewat program Kejar Paket tersebut. Pasalnya, waktu mereka sudah habis tersita dengan urusan anak dan keluarga.

 

Padahal seperti diketahui, perempuan adalah sekolah pertama anak. Jika seorang anak memiliki ibu yang cerdas, ia akan mampu berkembang lebih baik di masa depan. Generasi masa depan sebuah bangsa bergantung pada sosok ibu yang membesarkan mereka.

 

Oleh karena itu, banyak pihak yang prihatin dengan masih maraknya pernikahan dini di tengah masyarakat. Salah satunya adalah Ketua DPR RI, Puan Maharani. Saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan pernah menyoroti pernikahan anak usia dini. Ia  mengimbau agar seluruh elemen masyarakat bergotong royong memutus mata rantai pernikahan dini.

 

Puan menyebutkan, BKKBN dan Kementerian Kesehatan mencatat angka pernikahan dini atau pernikahan pertama perempuan sudah mulai menurun. Hal ini didasari oleh kesadaran perempuan akan pentingnya bersekolah.

 

Puan menjelaskan, adanya program Generasi Remaja (GenRe) bertujuan memberikan contoh dalam merencanakan keluarga di masa depan.

 

"Merekalah yang kemudian bersama untuk bisa mensosialisasikan bahwa pernikahan dini tidak akan menjadi lebih baik. Daripada menikah, nanti saat sudah siap lahir dan batin dan pastinya terencana," ujarnya.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

YUK, JAUHI HATE SPEECH DI DUNIA MAYA!

Baru-baru ini netizen dihebohkan dengan aksi selebgram Rachel Venya yang mengunggah status Instagram tentang kekesalannya kepada sebuah…

BERITA DUNIA09 September 2021

KASUS COVID MENURUN, PUAN MAHARANI: BUAH DARI GOTONG ROYONG

Sudah beberapa minggu terakhir, pandemi COVID19 di Indonesia mencapai kondisi yang sangat baik. Angka kasus positif COVID19 terus…

BERITA DUNIA06 October 2021

MENELADANI SOSOK FATMAWATI DI MOMEN KEMERDEKAAN INDONESIA

Bulan Agustus bisa dibilang merupakan bulan bersejarah bagi Indonesia. Hal ini tak lain karena di bulan inilah Indonesia merayakan…

BERITA DUNIA16 August 2021