PEREMPUAN, PENDIDIKAN, DAN TANTANGANNYA

Oleh Maulita Iqtianty

BERITA DUNIA27 August 2021

Perempuan, Pendidikan, dan Tantangannya

Gambar hanya ilustrasi.

Kalau membaca judul saja, mungkin kita akan berpikir bahwa saat ini perempuan telah mencapai kesetaraan dalam hal pendidikan. Satu sisi, hal ini ada benarnya. Perjuangan Kartini agar perempuan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan berhasil tercapai. Bahkan, kita bisa melihat banyak kaum perempuan mendapatkan gelar pendidikan hingga setinggi-tingginya.

 

Tapi di lain cerita, di Indonesia masih banyak perempuan yang terpaksa ‘mengalah’ untuk mendapatkan pendidikan yang mereka inginkan. Hal ini tercermin pada Survei Pusat Data dan Statistik Pendidikan (PDSP) Kemendikbud tahun 2013 yang dilansir dari Tirto yang menunjukkan, persentase perempuan pengajar perguruan tinggi sebesar 40,58%, sementara pengajar perguruan tinggi laki-laki sebesar 59,42%. Kemendikbud memandang, adanya persepsi bahwa perempuan hanya bertanggung jawab dalam urusan domestik membuat mereka kurang termotivasi untuk mengambil gelar S2 atau S3 sebagai syarat pengajar perguruan tinggi.

 

Tak perlu jauh-jauh ke pendidikan tingkat tinggi. Di banyak daerah di Indonesia, kaum perempuan masih dianggap ‘beban’ oleh keluarga. Hal ini membuat banyak anak perempuan segera dikawinkan begitu mencapai usia tertentu agar tak lagi menjadi ‘beban’ keluarga. Berbeda dengan kaum pria yang selalu dikedepankan masalah pendidikannya agar bisa meningkatkan derajat keluarga.

 

 

Baca juga: Pergerakan Perempuan dari Masa ke Masa 

 

 

Mengutip artikel di Kompas, menurut Koalisi Perempuan Indonesia (2019) dalam studinya Girls Not Brides menemukan data, bahwa 1 dari 8 remaja putri Indonesia sudah melakukan perkawinan sebelum usia 18 tahun.

 

Temuan ini diperkuat dengan data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) BPS tahun 2017 yang menunjukkan persentase perempuan berusia 20-24 tahun yang sudah pernah kawin di bawah usia 18 tahun sebanyak 25,71 persen. Dilihat dari aspek geografis, tren angka perkawinan anak dua kali lipat lebih banyak terjadi pada anak perempuan dari pedesaan dibandingkan dengan di perkotaan.

 

Padahal, berdasarkan data Bappenas (2021), perkawinan anak dapat membawa dampak ekonomi yang menyebabkan kerugian ekonomi negara sekitar 1,7 persen dari Pendapatan Kotor Negara (PDB).

 

Melansir dari Liputan6 yang mengutip data McKensy menunjukkan, apabila sebuah perekonomian memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk bisa berkontribusi, maka perekonomian global akan mendapatkan manfaat sebesar USD12 triliun pada tahun 2025.

 

Sementara untuk kawasan Asia Pasifik adanya kesamaan gender dan peranan perempuan yang sama di bidang perekonomian akan memberikan nilai tambah hingga USD4,5 triliun. Hal Ini menggambarkan bahwa sebuah negara atau perekonomian yang kohesif yang memberikan kesempatan yang inklusif dan sama baik bagi laki-laki dan perempuan, maka dia akan memberikan suatu manfaat dalam bentuk daya tahan dan juga bahkan secara nilai tambah bagi perekonomian.

 

Selain dampak ekonomi, para pengamat menyatakan bahwa perkawinan anak ini sebenarnya akan berdampak multi-dimensional, karena dapat membawa implikasi besar terhadap pembangunan, khususnya terkait kualitas dan daya saing sumber daya manusia kaum muda di masa mendatang.

 

Mengamini data di atas, ada pepatah yang mengatakan, bahwa sekolah pertama bagi seorang anak adalah ibunya. Ibu yang mendidik anak-anaknya dengan baik, akan menghasilkan generasi mendatang yang berkualitas pula. Oleh karena itu, anggapan bahwa  urusan perempuan hanya seputar dapur, sumur, dan kasur, menjadi tidak valid sama sekali. Perempuan, lebih dari itu.

 

Ketua DPR Puan Maharani juga menekankan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan. Menurut Puan, pendidikan dapat menjadi game changer dalam memberdayakan perempuan. Hal itu disampaikan Puan pada pertemuan virtual Anggota Parlemen Perempuan Indonesia-Afghanistan bertajuk “Empowering Women and Supporting Peace Process”, Kamis (24/6/2021).

 

“Dengan pendidikan, maka terdapat kesadaran akan hak dan kewajiban perempuan untuk meningkatkan kapasitasnya dan untuk mencapai cita-citanya,” kata Puan seperti dikutip dari Beritasatu, Hal ini tentunya tidak bisa dilakukan sendirian, perlu dukungan, terutama dari keluarga dan masyarakat sekitar bagi perempuan untuk dapat berkembang dan memberikan dampak besar bagi negara Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

PUAN MAHARANI, MEMASAK DI ERA REFORMASI MENJADI INSPIRASI DI ERA PANDEMI

Ada pepatah yang mengatakan, “Memasaklah dari hati, itu kunci utama masakan jadi enak”. Mungkin pepatah ini yang jadi…

BERITA DUNIA15 October 2021

PUAN MAHARANI: ANTARA KERJA DAN KELUARGA

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kaum perempuan adalah golongan yang andal dalam ber-multitasking ria. Dalam kehidupannya, seorang…

BERITA DUNIA06 October 2021

DAMPAK PANDEMI PADA PEREMPUAN

  Walaupun pandemi tidak mengenal gender, namun perlu diakui dampaknya sangat besar bagi kamu perempuan dan perempuan pun memiliki…

BERITA DUNIA11 June 2021