PEREMPUAN DI KALA PANDEMI

Oleh Adya Kananga

BERITA DUNIA01 June 2021

Perempuan di Kala Pandemi

Perempuan mendapatkan tantangan dan peran penting masing-masing selama menghadapi pandemi Covid-19 dan mereka pun butuh dukungan yang cukup (Foto: Freepik, gambar hanya ilustrasi).

Pandemi COVID19 yang telah berlangsung lebih dari satu tahun mempengaruhi berbagai sudut hidup perempuan. Perempuan semakin rentan terhadap kekerasan fisik dan seksual. Perempuan juga memiliki beban pekerjaan domestik yang lebih banyak daripada sebelum pandemi. Namun demikian, perempuan berada pada garis terdepan dalam menghadapi pandemi COVID19. Berbagai dampak yang telah dirasakan tersebut tidak membuat permasalahan ketimpangan gender baru, tetapi semakin membuat masalah-masalah ketimpangan gender semakin nyata dan intensif.

 

Secara global, bahkan sebelum pandemi COVID19 berlangsung, setidaknya satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan fisik atau seksual yang dilakukan oleh pasangan mereka. Kekerasan tersebut meningkat secara signifikan setelah pandemi berlangsung. Survey yang dilakukan oleh UNDP pada bulan November 2020 menunjukkan sebanyak 42 persen perempuan mengalami peningkatan kekerasan rumah tangga selama pandemi COVID19. Survey tersebut dilakukan pada lebih dari 1,000 orang responden dari 8 kabupaten di Indonesia. 

 

Peningkatan kekerasan fisik dan seksual yang dialami perempuan selama pandemi COVID dipengaruhi oleh banyak faktor. Isolasi sosial dan upaya menjaga jarak dengan sekitar, yang diperlukan untuk menghindari COVID19, dapat meningkatkan stress yang bisa menghasilkan reaksi kekerasan. Banyak perempuan terpaksa terjebak dengan pelaku kekerasan di lingkungan rumah, sehingga kejadian kekerasan semakin sering terjadi. Di sisi lain, ketidakpastian kondisi keuangan, kesehatan, dan keamanan keluarga juga semakin meningkatkan tingkat stress dalam rumah tangga.

 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak merespon situasi tersebut dengan membuat program yang fokus mendukung kelompok rentan selama masa pandemi. Layanan hotline 129 dibuat khusus untuk membantu korban kekerasan fisik dan sosial. Pemerintah juga membuat program SEJIWA untuk membantu para perempuan yang membutuhkan bantuan tenaga psikologi, melalui hotline 119 ext. 8 (delapan). Ditambah lagi, Kementerian PPPA juga membuat Program Bersama Jaga Keluarga Kita (BERJARAK) yang mengedepankan peran perempuan dalam menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.

 

Baca Juga : Work Life Balance bagi Perempuan

 

Dampak pandemi lainnya yang dirasakan perempuan adalah bertambahnya tugas domestik dalam keluarga. Berdasarkan laporan UN Women,  sebelum pandemi, perempuan menghabiskan tiga kali lipat lebih banyak waktu dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dibandingkan laki-laki. Di Indonesia, mayoritas responden perempuan dalam survei tersebut menghabiskan 3-5 jam dalam pekerjaan domestik, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya menghabiskan 0-2 jam untuk pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan domestik tersebut bertambah dengan tanggung jawab mendampingi anak sekolah di rumah, membersihkan rumah, berbelanja, dan sebagainya. 

 

Di sisi lain, perempuan juga tangguh serta berperan penting dalam mengatasi pandemi. Perempuan menjadi garda terdepan dalam meretas pandemi COVID19. Lebih dari  70% tenaga kesehatan dan pekerja sosial global adalah perempuan. Para tenaga kesehatan tersebut menjaga, merawat, dan menyelamatkan terdampak positif COVID19. Perempuan juga pelaku utama UMKM di Indonesia, yang kini menjadi tumpuan ekonomi secara nasional. Dengan peran tersebut, perempuan telah mengambil peran dalam menyediakan kebutuhan keluarga dan juga komunitas masyarakat.

 

Menyikapi dampak pandemi terhadap perempuan tersebut, dukungan dari laki-laki dan keluarga menjadi semakin krusial.  Pembagian peran dalam rumah tangga menjadi sangat berpengaruh dalam dinamika manajemen stress dalam keluarga. Dukungan dari anggota keluarga lainnya dan masyarakat sekitar juga akan membantu perempuan mengatasi kesulitan di tengah-tengah pandemi. Dengan dukungan-dukungan tersebut, perempuan tetap dapat mengambil peran sekaligus mengambil pilihan terbaik untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

TANTANGAN MENJADI IBU DI ERA DIGITAL

Pernah dengar nggak, sebuah kalimat yang menyatakan bahwa 'Jadi orangtua itu nggak ada sekolahnya'? Ilmu menjadi orangtua bisa dibilang…

BERITA DUNIA18 July 2021

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN NASIHAT PUAN MAHARANI

Selama lebih dari setahun, pandemi Covid-19 menyebabkan para siswa dan mahasiswa terpaksa belajar dari rumah secara daring. Banyak…

BERITA DUNIA04 October 2021

CITA-CITA BELUM TERCAPAI? JANGAN MENYERAH DULU!

Banyak perempuan yang merasa hidupnya selesai saat menikah dan menjadi ibu. Bahkan, tak sedikit yang merasa kehilangan identitas dirinya…

BERITA DUNIA16 August 2021