PERAN PEREMPUAN DALAM POLITIK

Oleh Maulita Iqtianty

BERITA DUNIA31 August 2021

Peran Perempuan dalam Politik

Gambar hanya ilustrasi.

Untuk memahami bagaimana peran perempuan dalam politik di Indonesia saat ini, tentunya terlebih dahulu kita harus melihat perjalanan perempuan dalam politik dari masa ke masa.

 

Perjuangan aktivis perempuan, telah dimulai jauh sebelum Republik Indonesia merdeka. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya organisasi-organisasi perempuan yang berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia. Misalnya, organisasi Pawijatan Wanito di Magelang yang didirikan pada tahun 1915 dan PIKAT (Perantaraan Ibu kepada Anak Temurun) yang dibentuk di Manado pada tahun 1917.

 

Organisasi-organisasi perempuan ini, memberikan inspirasi bagi gerakan kaum perempuan hingga masa setelah kemerdekaan hingga Orde Lama. Pada masa Orde Lama, selain organisasi juga muncul beberapa nama perempuan yang berkiprah dalam bidang politik, antara lain Kartini Kartaradjasa dan Supeni, dua nama yang terkenal dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Walandauw dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Mahmuda Mawardi dan HAS Wachid Hasyim dari  Nadhlatul Ulama, dan banyak lagi. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan Orde Lama, keberadaan perempuan diperhitungkan di panggung politik.

 

Namun, peran perempuan seperti sirna seiring dengan berakhirnya masa kekuasaan rezim Orde Lama dan berganti dengan Orde Baru. Di masa Orde Baru, organisasi perempuan difokuskan oleh negara di bidang “keperempuanan”. Perempuan berperan sebagai istri pendamping suami, pendidik anak dan pembina generasi muda, serta pengatur ekonomi rumah tangga. Kalaupun ada perempuan yang bekerja di luar rumah, hanya dianggap sebagai pencari nafkah tambahan.

 

Baru pada tahun 1980-an mulai bermunculan organisasi perempuan yang mencoba untuk keluar dari rumusan peran Orde Baru. Sebut saja Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) di Yogyakarta dan Yayasan Kalyanamitra di Jakarta. Yayasan ini bahkan memiliki jaringan hingga ke LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yakni LSM Solidaritas Perempuan dan LSM Rifka Annisa. Namun perjuangan mereka tidaklah mudah, sebab di satu sisi mereka harus mengubah mindset kaum perempuan terhadap kesetaraan gender, sementara di sisi lain mereka juga harus berhadapan dengan negara yang memiliki rumusan peran perempuan yang berbeda dengan perjuangan mereka.

 

Keberadaan perempuan di politik mulai terbuka lebar saat runtuhnya rezim Orde Baru. Organisasi perempuan terus bermunculan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk ormas, yayasan, dan LSM, melainkan juga dalam bentuk women crisis center dan hotline. Tidak hanya itu, partai politik pun tidak ketinggalan memasukkan unsur perempuan ke dalam bidang organisasinya maupun sayap organisasi yang dipimpin langsung oleh perempuan.

 

Baca juga: 7 Tantangan Umum Pemimpin Perempuan

 

Sejak saat itu, keberpihakan pada kaum perempuan dalam politik semakin terbuka lebar. Diawali dengan amandemen UUD 1945 dan memuat unsur kesetaraan gender dalam bentuk persamaan hak dan kewajiban antar sesama warga negara dalam berbagai bidang kehidupan termasuk dalam bidang hukum dan pemerintahan, dikeluarkannya Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, hingga UU Pemilu yang memuat kuota 30% bagi keberadaan calon anggota legislatif perempuan.

 

Mengapa peran perempuan penting dalam politik?

 

Selama ini, dunia politik masih kental dengan budaya maskulinitas. Misalnya, rapat partai dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh. Keadaan ini menyulitkan bagi perempuan, yang secara tradisional terikat dengan beban kewajiban untuk menjaga anak dan melayani suami. Sehingga, hal tersebut menghambat perempuan untuk berperan di bidang politik.

 

Jika maskulinitas ini terus dibiarkan, maka perempuan tak akan pernah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan yang berpengaruh pada kemajuan bangsa. Padahal representasi perempuan di dunia politik akan memberikan keseimbangan dalam mewarnai perumusan kebijakan dan peraturan perundang-undangan, penganggaran, dan pengawasan yang akan lebih berpihak pada kepentingan kesejahteraan bagi kaum perempuan.

 

Istilahnya, yang mengerti kaum perempuan, ya tentu sesama kaum perempuan, bukan?

 

Betul, perjuangan perempuan untuk mendapatkan kesetaraan hak dalam berpolitik masih berliku. Walaupun sebenarnya, di Indonesia, batasan peran perempuan dalam berpolitik di Indonesia sudah runtuh saat Megawati Soekarnoputri menjadi perempuan pertama yang dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 23 Juli 2001.

 

“Saat ada yang bicara bahwa peran perempuan di politik selalu dibatasi oleh glass ceiling, sesungguhnya glass ceiling politik bagi perempuan Indonesia sudah diruntuhkan di hari Ibu Megawati dilantik menjadi Presiden,” ujar Puan Maharani, Ketua DPR RI perempuan pertama di Indonesia seperti yang dikutip dari artikel di SuaraSurabaya.

 

Sejak saat itu, menurut Puan, peran perempuan di Indonesia terus berkembang pesat, banyak perempuan yang memegang peran strategis dalam setiap kegiatan pembangunan di bidang ekonomi, sosial, lingkungan hidup, olahraga, ilmu pengetahuan, riset, dan lain sebagainya.

 

“Pada periode 2014-2019 sekitar 17 persen anggota DPR adalah perempuan, periode 2019-2024 jumlah perempuan yang menjadi anggota DPR meningkat menjadi sekitar 21 persen. Sekarang banyak anggota perempuan DPR-RI yang menempati posisi pimpinan Alat Kelengkapan Dewan,” lanjut Puan masih dalam kesempatan yang sama.

 

Peningkatan ini merupakan hal yang positif, meskipun belum maksimal. Untuk itu, perjuangan perempuan untuk mewujudkan kesetaraan gender tidak dapat dilakukan oleh kaum perempuan sendiri, melainkan diperlukan kerjasama dengan entitas sosial lain yang memiliki kepekaan terhadap persoalan perempuan (gender sensitivity).

 

Tak hanya itu, perlu juga peran pengambil keputusan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, LSM, kaum cendekiawan, beserta seluruh elemen masyarakat dalam rangka mengeliminasi berbagai kendala kultural, struktural, dan instrumental dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender di semua lini kehidupan termasuk keterwakilan suara perempuan di dunia politik.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

5 PEREMPUAN INDONESIA DALAM KANCAH DUNIA

Banyak perempuan Indonesia yang sangat berprestasi dan mendapatkan berbagai penghargaan di dalam maupun luar negeri. Perempuan memang…

BERITA DUNIA29 July 2021

CARA MUDAH AKTIF BEROLAHRAGA DI RUMAH

  Menjaga kebugaran fisik dan mental di kala pandemi sangat penting untuk meningkatkan imunitas tubuh. Orang-orang yang menjaga…

BERITA DUNIA22 July 2021

PEREMPUAN MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER

Kemajuan sebuah peradaban dalam masyarakat sangat tergantung pada peran perempuan. Perempuan mengambil peran dalam berbagai bidang.…

BERITA DUNIA14 September 2021