PENTINGNYA PERENCANAAN KEUANGAN UNTUK PEREMPUAN

Oleh Indira Suwarno

BERITA DUNIA21 September 2021

Pentingnya Perencanaan Keuangan untuk Perempuan

Source: shutterstock.com

Pengetahuan seputar perencanaan keuangan sebaiknya dimiliki oleh perempuan yang pada umumnya bertindak sebagai manajer keuangan dalam sebuah rumah tangga. Ibu adalah sosok yang terbiasa membagi-bagi uang sesuai porsinya. Apakah untuk belanja bulanan, uang sekolah, dana liburan, dan sebagainya.

Jika ibu tidak memiliki kemampuan merencanakan keuangan yang baik, bisa jadi kondisi keuangan akan berantakan. Dampaknya, rencana masa depan keluarga pun bisa terkendala.

Di masa lalu, financial planning atau perencanaan keuangan merupakan konsep yang asing bagi masyarakat Indonesia. Boleh dibilang, mayoritas masyarakat Indonesia tidak memahami konsep merencanakan keuangan hingga beberapa tahun belakangan ini. Penghasilan yang didapatkan hari, minggu, atau bulan itu, langsung habis untuk kebutuhan saat itu juga. Bahkan menurut sebuah riset yang digelar pada 2015, masyarakat Indonesia menduduki peringkat paling buncit dalam daftar negara-negara yang memiliki kebiasaan menabung.

Padahal, keuangan yang direncanakan dengan baik akan menghasilkan masa depan sejahtera. Dan, membuat rencana keuangan yang dihitung seksama tidak akan membuat seseorang hidup sengsara atau tidak menikmati hidup karena harus menabung terus-menerus. Justru, perencanaan keuangan yang matang akan membantu seseorang untuk menikmati hidup sekaligus menyiapkan dana untuk berbagai kondisi di masa depan.

Terdapat beberapa komponen yang harus disiapkan dalam membuat sebuah perencanaan keluarga, yaitu:

        1.     Asuransi

Asuransi berfungsi sebagai jaring pengaman keuangan keluarga. Jika terjadi musibah kematian atau kecelakaan pada pencari nafkah utama, asuransi akan meng-cover biaya hidup anggota keluarga dengan premi yang dihasilkannya.

Yang paling penting untuk dimiliki adalah asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Asuransi jiwa hanya untuk pencari nafkah dalam keluarga. Sementara asuransi kesehatan sebaiknya dimiliki oleh seluruh anggota keluarga. Jika dana kesehatan sudah di-cover oleh kantor ayah atau ibu, berarti tidak perlu asuransi kesehatan. Untuk asuransi kesehatan paling basic, bisa dicoba BPJS Kesehatan.

 

        2.     Dana Darurat

Dana darurat berfungsi sebagai dana cadangan saat terjadi kondisi darurat. Misalnya, saat ayah terkena PHK, rumah tiba-tiba butuh renovasi, mobil mogok dan harus diperbaiki di bengkel, dan sebagainya.

Untuk menghitung dana darurat, metodenya berbeda tergantung kondisi tiap-tiap orang. Untuk yang masih lajang, biasanya dihitung sebesar 3-6 kali penghasilan. Sementara untuk yang sudah berkeluarga, besarannya sekitar 6-12 kali penghasilan, tergantung jumlah anak.

Dana darurat disarankan untuk disimpan dalam bentuk yang mudah dicairkan seperti tabungan, deposito, atau reksa dana. Jangan menyimpan dana darurat dalam bentuk properti atau kendaraan karena proses pencairan/penjualannya akan membutuhkan waktu.

 

3.     Dana Pendidikan

Bagi yang punya anak atau berencana untuk punya anak, dana pendidikan itu sangat penting adanya. Sebab, siapa sih yang tidak mau anak-anaknya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin? Dan ingat, pendidikan yang baik dan berkualitas itu butuh biaya yang tidak sedikit.

Bahkan disarankan bagi para orang tua untuk mulai mengumpulkan dana pendidikan sejak anak masih di dalam kandungan. Untuk instrumennya, bisa digunakan produk investasi yang bisa mengalahkan laju inflasi seperti reksa dana dan saham. Jika menggunakan produk tabungan biasa, hasilnya akan sulit mengejar biaya pendidikan yang naik 10-20 persen per tahunnya.

 

4.     Dana Pensiun

Bagi masyarakat Indonesia, dana pensiun bukanlah sesuatu yang lazim dipikirkan sejak jauh-jauh hari. Sebab, masih banyak yang berpikir bahwa saat tua nanti, mereka akan hidup menumpang pada anak. Padahal, pemikiran seperti itu akan menyebabkan anak menjadi generasi sandwich, yakni generasi yang terjepit di tengah-tengah antara anak dan orang tua. Generasi sandwich tidak bisa optimal memenuhi kebutuhan anaknya karena harus membagi penghasilan dengan orang tuanya.

Kondisi seperti ini bisa diminimalisir dengan menyiapkan dana pensiun sejak dini. Jika dana pensiun sudah dikumpulkan sejak jauh-jauh hari, masa tua pun bisa dilalui dengan nyaman dan sejahtera.

Untuk jumlahnya, sesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan Anda. Sehingga, Anda tetap bisa menikmati keseharian tanpa terlalu pusing dengan masa depan. Sedangkan untuk instrumen investasinya, para pakar finansial menyarankan saham karena dana pensiun dikumpulkan untuk kebutuhan jangka panjang.

 

5.     Dana Bulanan

Untuk ini, sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan Anda. Untuk SPP bulanan anak, misalnya, jangan melebihi 10 persen dari total penghasilan per bulannya. Sebab, jika Anda melebih porsi tersebut, porsi pengeluaran lain seperti belanja makanan, kebutuhan rumah tangga, tagihan, dan sebagainya akan terganggu.

 

6.     Dana untuk Sesama

Bagi umat Muslim, dana ini biasa masuk ke dalam zakat. Sementara untuk umat Kristen disebut per puluhan. Ingatlah, di dalam harta Anda terdapat bagian harta orang lain. Karena itu, penting untuk “membersihkan”-nya dengan berbagi dengan sesama.

Jangan hanya fokus ke masa depan tapi lupa berbagi dengan yang lain, ya!

 

Baca juga: Potensi Perempuan sebagai Penggerak Ekonomi Keluarga

 

Soal perencanaan keuangan juga diperhatikan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani. Utamanya adalah kesejahteraan para atlet ketika memasuki pensiun.

Dilansir dari Liputan6.com, Puan mengklaim DPR akan memperjuangkan dana pensiun bagi para atlet melalui RUU Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) yang sedang dibahas.

Puan menjelaskan, RUU SKN akan menjadi rancangan besar olahraga nasional RUU 2021-2045, yang di dalamnya mencakup berbagai hal mengenai sistem keolahragaan nasional. Termasuk jaminan kesejahteraan atlet, jaminan kesehatan, dan jaminan pensiun.

"Soal kesejahteraan atlet ini tidak cukup hanya sebatas bonus, karena bonus hanyalah reward atas sebuah prestasi. Kesejahteraan atlet harus masuk sampai jaminan sosial para atlet sampai pensiun," kata Puan.

Oleh karenanya, kata Puan, lewat revisi RUU SKN pihaknya mendorong agar para atlet yang sudah tidak produktif lagi, bisa memiliki dana pensiun.

"Kami tidak ingin mendengar lagi ada mantan atlet yang sudah mengharumkan nama bangsa, akhirnya bekerja serabutan untuk menghidupi hari tuanya karena tidak memiliki dana pensiun,” kata Puan.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

CARA MENGATASI BURNOUT DALAM KARIR PEREMPUAN

Perempuan adalah ahli dari berbagai keahlian. Perempuan adalah pengasuh, edukator, koki, akuntan, dan sebagainya, yang bahkan di luar…

BERITA DUNIA16 July 2021

WORK LIFE BALANCE BAGI PEREMPUAN

Semakin ke sini, sudah lazim rasanya perempuan memiliki peran ganda. Apalagi, bagi perempuan yang sudah menikah dan berkeluarga. Mereka…

BERITA DUNIA12 July 2021

DUO SRIKANDI INDONESIA PERAIH MEDALI EMAS DI LAGA OLIMPIADE 2020

Gempita Olimpiade Tokyo 2020 masih hangat terasa. Kebanggaan dan nasionalisme kembali membuncah di dada saat menyaksikan lagu Indonesia…

BERITA DUNIA10 August 2021