MENELADANI SOSOK FATMAWATI DI MOMEN KEMERDEKAAN INDONESIA

Oleh Maulita Iqtianty

BERITA DUNIA16 August 2021

Meneladani Sosok Fatmawati di Momen Kemerdekaan Indonesia

Gambar hanya ilustrasi

Bulan Agustus bisa dibilang merupakan bulan bersejarah bagi Indonesia. Hal ini tak lain karena di bulan inilah Indonesia merayakan kemerdekaannya, tepatnya di tanggal 17 Agustus.

 

Berbicara soal kemerdekaan Indonesia, sudah pasti kita akan segera mengaitkan dengan peran proklamator Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta. Selain keduanya, ada sesosok perempuan yang perannya tak kalah penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Fatmawati?

 

Selama ini kita hanya mengenal sosok Fatmawati yang merupakan istri ketiga Sukarno, dengan perannya menjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi 17 Agustus 1945. Bukan berarti hal ini menjadi hal yang tidak penting, tentu saja dengan kondisi negara yang sedang memperjuangkan kemerdekaan dan menjadi istri presiden pertama, berbagai tantangan dihadapi.

 

Mengutip artikel di Tirto, saat itu, situasi setelah proklamasi kemerdekaan dengan cepat memanas karena kedatangan Sekutu dan Belanda. Bentrokan dan kontak senjata antara pejuang Republik dan tentara Belanda di akhir tahun 1945 semakin sering terjadi. Situasi genting seperti itulah yang kemudian dihadapi Fatmawati. Ia harus membiasakan diri hidup berpindah dan terpisah dari Sukarno untuk menghindari penangkapan Belanda.

 

Dalam memoarnya (hlm. 89) Fatmawati berkisah:

“Kalau sudah Magrib aku berpisah dengan Bung Karno. Bung Karno jalan sendiri, sedangkan aku bersama ibuku pergi untuk menginap di tempat kenalan baik dengan pengawalan pistol dan golok. Biasanya kami melalui lorong-lorong kampung menuju tempat rahasia, di mana Bung Karno sudah menunggu atau menyusul. [...] Kadang-kadang aku terpaksa menyamar sebagai tukang pecel, dan Bung Karno menyamar sebagai tukang sayur dengan gaya berjalan pincang.”

 

Baca Juga : Bahasa Indonesia Pemersatu Kebinekaan Bangsa

 

Ya, jasa Fatmawati tidak hanya menjahit bendera Merah Putih. Beberapa saat setelah Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI, Soekarno membentuk Barisan Berani Mati untuk mempertahankan Sang Merah Putih.

 

Saat itu, banyak orang berbondong-bondong datang ke rumah Sukarno dan Fatmawati di Jalan Pegangsaan Timur 56. Mereka secara sukarela menjaga bendera Merah Putih dari ancaman Jepang, yang saat itu sangat ketat memantau gerak gerik Sukarno dan para pejuang lainnya.   

 

"Fatmawati mengadakan dapur umum untuk memberi makan ratusan orang dari gelombang pertama yang membentuk benteng manusia sekeliling Pegangsaan Timur 56," kata Sukarno dalam buku otobiografinya, 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' yang ditulis Cindy Adams.

 

Sejak kecil, Fatmawati memang dikenal sebagai perempuan pemberani, pintar, dan bersahaja. Ada cerita yang tergambar dalam sebuah foto saat pameran benda kesayangan Fatmawati diadakan tahun 2008, untuk mengenang 85 tahun Fatmawati. Foto itu menggambarkan suatu hari di era presiden Soekarno, di istana negara sedang berlangsung kerja bakti. Puluhan orang gotong royong membersihkan halaman istana peninggalan penjajah Belanda itu.

 

Di antara mereka, tampak seorang perempuan asyik memotong rumput yang tumbuh di sekitar air mancur. Kebaya yang membalutnya tidak menjadi penghalang untuk mengikuti acara bersih-bersih itu.

 

Perempuan itu tak lain adalah ibu Fatmawati, istri sang presiden. Statusnya sebagai ibu negara ditinggalkannya sesaat, dan berbaur untuk membantu menjaga keindahan istana kebanggaan negeri itu.

 

Mengutip komentar Puti Guntur Soekarno di artikel di detik, "Ibu Fatmawati adalah ibu negara pertama yang bersahaja, memiliki kepribadian yang tangguh. Beliau juga merupakan pahlawan nasional," cetus cucu dari Fatmawati ini.

 

Menurut putri perempuan Guntur itu, masyarakat perlu mengenal ibu Fat sebagai sosok luar biasa yang selama ini dilupakan masyarakat. "Selama ini Ibu Fat hanya dikenal sebagai penjahit bendera merah putih saja," imbuh Puti.

 

Baca juga : Duo Srikandi Indonesia Peraih Medali Emas di Laga Olimpiade 2020

 

Di lain kesempatan, kebanggaan terhadap Fatmawati juga diutarakan Ketua DPR Puan Maharani saat meresmikan Monumen Pahlawan Nasional Ibu Fatmawati di Simpang Lima, Kota Bengkulu. Puan berharap generasi muda bisa meneladani sosok Ibu Negara pertama Republik Indonesia."Kita jaga apa yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan dan para pendiri bangsa," kata Puan.

 

"Beliau adalah Ibu Negara RI yang pertama, seorang pahlawan nasional. Ibu dari Presiden RI perempuan yang pertama, Ibu Megawati Soekarnoputri, dan nenek saya. Ketua DPR-RI perempuan yang pertama," kata Puan seperti dikutip dari artikel di Merdeka.

 

Meneladani sosok Fatmawati ternyata tak berhenti sampai statusnya sebagai ibu negara. Fatmawati yang anti poligami, memilih untuk meninggalkan istana negara dan tinggal di sebuah rumah sederhana. Jika Fatmawati masih hidup, mungkin ia akan bangga pada anaknya Megawati, yang pernah menjadi presiden pertama Indonesia, serta cucunya, Puan Maharani, yang menjadi Ketua DPR RI perempuan pertama di Indonesia. Keduanya, bisa dibilang memegang tongkat estafet kecintaan pada bangsa dengan baik dan patut menjadi inspirasi bagi seluruh perempuan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

PERAN PEREMPUAN DALAM POLITIK

Untuk memahami bagaimana peran perempuan dalam politik di Indonesia saat ini, tentunya terlebih dahulu kita harus melihat perjalanan…

BERITA DUNIA31 August 2021

3 WANITA HEBAT DAN BERPENGARUH DI INDONESIA

Menjadi seorang wanita hebat Indonesia yang menduduki peran penting dalam sebuah negara bukanlah sesuatu yang mudah. Anda harus memiliki…

BERITA DUNIA02 July 2021

YUK, JAUHI HATE SPEECH DI DUNIA MAYA!

Baru-baru ini netizen dihebohkan dengan aksi selebgram Rachel Venya yang mengunggah status Instagram tentang kekesalannya kepada sebuah…

BERITA DUNIA09 September 2021