MELURUSKAN ANGGAPAN TENTANG BUDAYA MATRILINEAL

Oleh Maulita Iqtianty

BERITA DUNIA30 August 2021

Meluruskan Anggapan Tentang Budaya Matrilineal

Gambar hanya ilustrasi.

Dalam upacara Hari Ulang Tahun ke-76 Republik Indonesia, Ketua DPR Puan Maharani menjadi pembaca Teks Proklamasi. Tak hanya karena penghayatannya, tapi pakaian yang dikenakan Puan saat itu yang menjadi pusat perhatian. Ya, Puan mengenakan pakaian adat Minangkabau dari Lintau Kabupaten Tanah Datar.

 

Pakaian yang dikenakan Puan yakni baju kuruang basiba, lengkap dengan tingkuluak balenggek bernuansa krem, merah, dan emas.

 

Dalam adat Lintau, pakaian ini dipakai oleh anak rajo serta kemenakan penghulu. Biasanya tangkuluak balenggek juga dipakai oleh pengantin perempuan ketika pesta pernikahan.

 

Melansir dari artikel di liputan6, Ketua Umum Organisasi Bundo Kanduang Minangkabau Sumbar, Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib mengatakan, pakaian adat Minangkabau yang dipakai oleh Puan Maharani merupakan simbol kebesaran, kemegahan, dan kemuliaan perempuan Minang.

 

Taufiq Kiemas, ayah dari Puan Maharani memang berasal dari Tanah Datar. Ayahnya merupakan seorang penghulu dari Nagari Sabu, Tanah Datar. Menurut Bundo, pakaian adat perempuan di Minangkabau adalah hal yang penting, karena di daerah ini pakaian seorang perempuan yang sudah menikah tidak mengikuti suami. Namun, dari mana ia berasal.

 

Hal ini dikarenakan sistem yang dianut Sumatera Barat adalah sistem matrilineal di mana garis keturunan berasal dari ibu.

 

Melansir dari BBC, suku Minangkabau ternyata merupakan masyarakat yang menganut sistem matrilineal terbesar di dunia.

 

Semangat kesetaraan sangat terasa dalam sistem kekerabatan  ini. Mulai dari hal yang rumit seperti pembagian harta warisan misalnya sawah dan rumah yang diturunkan kepada anak perempuan, sampai anak-anak yang mengambil nama keluarga ibu dan pria dianggap sebagai seorang tamu di rumah istrinya.

 

Baca juga: Cita - Cita Belum Tercapai? Jangan Menyerah Dulu!

 

Tak hanya semangat kesetaraan, namun sistem matrilineal yang dianut masyarakat Minang, menjadi simbol agar kecintaan dan penghargaan kepada kaum perempuan selalu hidup dalam jiwa kaum pria. Sistem Matrilineal ini sulit dibantah karena ini merupakan dalil yang sudah hidup, tumbuh dan berkembang di Minangkabau.

 

Namun, bukan berarti pada sistem matrilineal perempuan jadi bertindak seenaknya. Misalnya dalam sistem matrilineal masyarakat Minangkabau, ada peran Ninik Mamak atau saudara laki-laki dari pihak ibu yang bertugas ‘menjaga’ dan menjadi tempat bermusyawarah keluarga.

 

Hal ini memperjelas bahwa sistem matrilineal pada dasarnya bukanlah untuk mengukuhkan dominasi peranan perempuan, apalagi dalam keluarga, melainkan sebuah sistem yang dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka, dan sawah ladang.  Jadi dalam sistem matrilineal, perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan.

 

Mengenai busana yang dikenakan, seperti dikutip dari Sinar Pagi, Puan sendiri memberikan jawaban yang diplomatis, "Negeri yang merdeka ini tidak hanya harus berdaulat secara politik dan berdikari secara ekonomi, tetapi juga berkepribadian dalam budayanya," ujar Puan mengutip Trisakti Bung Karno.

 

Penampilan Puan saat itu sontak mendapat respons positif dari para tokoh Sumatera Barat. Apalagi Puan merupakan tokoh perempuan inspiratif yang menjadi Ketua DPR RI perempuan pertama di Indonesia, yang terlahir dari rahim presiden perempuan pertama di Indonesia, Megawati. Hal ini seolah menguatkan pesan bahwa perempuan merupakan pemegang pusaka untuk menjaga serta melindungi Indonesia, seperti layaknya perempuan di Minangkabau.

 

Salah satu yang merespons positif adalah Ketua Umum Organisasi Bundo Kanduang Minangkabau Sumatera Barat, Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib mengaku sangat bangga melihat Puan Maharani menggunakan pakaian adat minangkabau tersebut.

 

"Secara tidak langsung, Puan ikut memperkenalkan Budaya Minangkabau lewat pakaian adat yang terkenal dengan sistem matrilineal," kata Raudha Thaib.

 

 

Gubernur Sumbar, Mahyeldi, juga mengapresiasi Puan Maharani mengenakan busana tersebut.

 

"Saya kira sangat bagus sekali. Sangat cocok ya, Mbak Puan punya darah Minang, dengan memakai busana itu tampak kebundokanduangannya," kata Mahyeldi dikutip dari Sinar Pagi.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

MENELADANI SOSOK FATMAWATI DI MOMEN KEMERDEKAAN INDONESIA

Bulan Agustus bisa dibilang merupakan bulan bersejarah bagi Indonesia. Hal ini tak lain karena di bulan inilah Indonesia merayakan…

BERITA DUNIA16 August 2021

MAKNA BHINNEKA TUNGGAL IKA

Konsep Bhinneka Tunggal Ika adalah konsep yang sudah berlangsung ratusan tahun di Indonesia. Konsep ini dapat dirunut sejak masa Dinasti…

BERITA DUNIA20 August 2021

YUK, JAUHI HATE SPEECH DI DUNIA MAYA!

Baru-baru ini netizen dihebohkan dengan aksi selebgram Rachel Venya yang mengunggah status Instagram tentang kekesalannya kepada sebuah…

BERITA DUNIA09 September 2021