IBU, SUMBER INSPIRASIKU

Oleh Maulita Iqtianty

BERITA DUNIA01 September 2021

Ibu, Sumber Inspirasiku

Gambar hanya ilustrasi.

Dulu waktu masih duduk di bangku sekolah, saat menyebut idola, biasanya banyak anak-anak yang menyebut ibu. Ya, kalau dipikir-pikir, hal ini sejalan dengan pepatah ibu adalah sekolah pertama bagi anak, ya. Kita banyak mengambil pelajaran kehidupan dari sosok ibu.

 

Dari hal sederhana seperti cara membuat sambal atau merapikan tempat tidur, saja, setiap orang pasti memiliki perbedaan. Ada yang cabe dan bawangnya digoreng dulu sebelum dibuat sambal, ada yang digorengnya setelah diulek, dan seterusnya. Hal ini biasanya tanpa sadar dilakukan karena itulah yang mereka lihat dan alami bertahun-tahun dalam keluarga.

 

Demikian juga dengan cara berpikir dan apa yang akhirnya kita pilih dalam hidup. Tanpa sadar, ibu kerap kali memengaruhi cara kita berpikir dan memilih cita-cita.

 

Berikut ada 3 sosok anak perempuan yang menjadikan ibu sebagai panutan dan bahkan mengikuti jejak langkah mereka.

Windy Cantika dan Siti Aisah

Masih segar di ingatan kita ketika medali pertama untuk Indonesia diraih di cabang olahraga weightlifting oleh atlet muda, Windy Cantika. Gadis berusia 19 tahun itu sukses mengangkat beban total 194 kilogram, dengan rincian 84-kilogram snatch dan 110 kilograms clean and jerk.

 

Prestasi Cantika ini, mirip dengan prestasi ibunya, Siti Aisah, yang merupakan lifter termuda dan pertama Indonesia yang meraih medali perunggu pada kejuaraan dunia pada 1987 di Amerika Serikat.

 

Sejak kecil ibunda Cantika sering bercerita mengenai pengalamannya ketika menjadi atlet. "Sebelum saya tidur, ibu bercerita mengenai pengalaman-pengalaman di Pelatnas, rasa bangga tampil di kejuaraan, dan pengalaman saat ikut kejuaraan di Amerika Serikat," kata Cantika seperti dikutip dari artikel di Kompas

 

Ketika niat Cantika bulat untuk serius jadi atlet, Sang Bunda malah sering menjelaskan pada Cantika bahwa tidak mudah menjadi atlet. Bahkan, hal itu masih disampaikan saat ia menerima surat dari Pelatnas untuk anaknya Cantika. "Saya jelaskan ke Cantika, Pelatnas memiliki banyak aturan yang berat. Makanan saja, Cantika enggak bisa sembarangan makan seblak, bakso, dan makanan pedas favoritnya," tutur Siti Aisah, seperti dikutip dari artikel di Kompas.

 

Begitu pun jadwal latihan, Cantika bisa berbulan-bulan tidak pulang. Hal itu terbukti, karena dua kali Idul Fitri, Cantika tidak bisa pulang ke rumah untuk mempersiapkan kejuaraan. Mendengarkan penjelasan sang Ibu, Cantika mengaku siap dengan segala risikonya. Siti Aisah akhirnya hanya mendoakan dan mendukung anaknya melenggang ke Pelatnas. Doa ibu, terbukti memuluskan langkah Cantika, hingga ia membawa pulang medali pertama untuk Indonesia di laga olahraga paling bergengsi, Olimpiade Tokyo 2020.

 

Stephanie Poetri dan Titi DJ

Dalam dunia seni, siapa yang tidak mengenal sosok Titi Dwi Jayati atau Titi DJ? Mengawali karier sebagai penyanyi latar, Titi berkesempatan merilis album pertamanya berjudul Bukan Hanya Satu Kali ketika ia berusia 17 tahun. Puluhan lagu hits ia luncurkan dan tak hanya tarik suara, Titi juga telat membintangi puluhan film dan sinetron.

 

Buah jatuh tak jauh dari induknya. Putri bungsunya, Stephanie Poetri, mengikuti jejak karier Titi. Kendati sudah menjajal dunia seni sejak tahun 2015, baru di tahun 2019 namanya melejit saat merilis lagu "I Love You 3000". Lagu yang ia tulis sendiri ini, terinspirasi dari film Marvel, Avengers: Endgame.

 

Jika pada cerita Windy Cantika sang Bunda ikut melatih dan mendoakan, maka berbeda dengan Meni, panggilan kesayangan Stephanie. Ia melibatkan sang ibu dalam pembuatan lagu ini dengan menjadi produser eksekutif sekaligus juga menjadi suara latar untuk lagu tersebut.

 

Puan Maharani dan Megawati

Cerita anak perempuan yang terinspirasi oleh kisah ibu, tak lengkap jika belum bercerita tentang Puan Maharani yang merupakan putri dari mantan Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati.

 

Persinggungan pertama Puan Maharani dengan politik adalah saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) ketika ibunya Megawati mulai aktif kembali dalam kancah perpolitikan Indonesia. Di kala itu Megawati mulai sering berkeliling Indonesia dan Puan Maharani kecil mulai menyaksikan bagaimana seorang politisi bekerja.

 

Beranjak ke masa sekolah menengah atas (SMA), Puan Maharani mulai mendampingi dan menyaksikan langsung ibunya dalam kegiatan politik. Waktu terus bergulir dan Puan Maharani selain turut menjalankan usaha keluarga juga terus mendampingi ibunya, Megawati, dalam berbagai acara politik, termasuk saat lahirnya PDI Perjuangan.

 

Pada tahun 2006 Puan Maharani akhirnya mulai secara aktif terlibat dalam organisasi politik. Pertama menjadi anggota DPP KNPI Bidang Luar Negeri. Puan Maharani akhirnya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada Pemilu 2009 dari Dapil Jawa Tengah V (Surakarta, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali). Puan Maharani akhirnya terpilih dengan suara terbanyak kedua di tingkat nasional yaitu 242.504 suara.

 

Meskipun langkah Puan menjadi politisi didukung Mega, bukan berarti dirinya mendapatkan kemudahan. Sebagai politisi baru, Puan mengakui tidak mudah melakoni pertarungan politik.

 

"Tidak pernah tahu gimana caranya kampanye buat jadi caleg. Saya bikin tim. Pilih timnya siapa. Udah saya jadi caleg. Nggak kayak sekarang. Ribet dah," ujar Puan seperti dikutip dari artikel di Merdeka.

 

Kendati saat ini karier politiknya telah terbukti dengan menjabat sebagai  Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, hubungan Puan dan Megawati tetaplah hubungan ibu dan anak. Ia masih suka dimarahi Sang Bunda, walaupun ternyata alasan kemarahan Megawati hanya lantaran Puan sudah jarang makan bersama Mega. "Ujung-ujungnya cuma karena sudah lama tidak makan sama mama," jelas dia dalam sebuah artikel di Merdeka.

 

Baca juga: Tantangan Menjadi Ibu di Era Digital

 

Menarik ya, mengetahui bagaimana seorang ibu bisa menjadi sumber inspirasi bagi seorang anak. Perempuan, apapun statusnya; apakah ia perempuan bekerja, seniman, politisi, ibu rumah tangga, akan selalu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, perempuan harus selalu berdaya dalam kondisi apapun. Karena mereka, adalah sumber inspirasi dari anak-anaknya kelak.

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

TENAGA KESEHATAN PEREMPUAN DI KALA PANDEMI

Masih segar di ingatan kita semua berita-berita tentang kematian tenaga kesehatan yang sedang hamil, meninggal dunia saat anak masih…

BERITA DUNIA08 September 2021

UNIKNYA HUBUNGAN PUAN MAHARANI DAN SANG IBU, MEGAWATI

Tak ada yang bisa membantah bahwa ikatan antara ibu dan anaknya sudah terjalin sejak anak berada dalam kandungan. Tapi, tahu nggak…

BERITA DUNIA30 September 2021

HOBI SELAMA PANDEMI PUAN MAHARANI

Pandemi COVID19 yang berkepanjangan telah membawa kehidupan jutaan orang seakan berhenti sejenak. Hal ini membuat banyak orang yang…

BERITA DUNIA29 September 2021