DAMPAK PANDEMI PADA PEREMPUAN

Oleh Adya Kananga

BERITA DUNIA11 June 2021

Image : Shutterstock

 

Walaupun pandemi tidak mengenal gender, namun perlu diakui dampaknya sangat besar bagi kamu perempuan dan perempuan pun memiliki peran yang besar selama pandemi. Mengapa demikian?

 

Pertama, pandemi membawa semua orang kembali ke rumah. Bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, beribadah dari rumah, dan seterusnya. Hal ini tentu berimbas pada urusan domestik yang notabene menjadi urusan kaum perempuan.

 

Kita mulai dari hal yang paling sederhana. Sekolah dari rumah. Siapa lagi yang anak-anak cari untuk menjadi tempat bertanya? Apalagi jika Sang Ayah bekerja dari rumah, sehingga tak bisa diganggu. Maka ibu mau tidak mau harus berperan ganda dengan menjadi guru pula. Bahkan jika Sang Ibu bekerja dari rumah pun, yang biasa terjadi adalah, pekerjaan ibu lebih 'bisa diganggu' ketimbang ayah. Entah peraturan dari mana, tapi demikian faktanya. 

 

Ibu pun dituntut memiliki kreativitas lebih dalam menjadi guru, koki, sampai teman bermain anak. Maka, peran ganda perempuan pun semakin nyata di kala pandemi. 

 

Kedua, seperti ditulis di artikel sebelumnya yang mengutip situs kemenpppa.go.id, berdasarkan Data Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Besar di Indonesia pada periode 2014-2018, sebanyak 99,99 persen dari 64 juta unit usaha di Indonesia adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sekitar 60% dari jumlah UMKM tersebut, dikelola oleh Perempuan (Kemenko PMK, Juli 2020) dengan 3 sektor yang dikuasai yaitu fashion, kuliner dan kriya. 

 

Saat pandemi melanda, UMKM menjadi salah satu sektor yang terpukul. Keterbatasan ruang gerak perlahan menggerogoti kekuatan sebuah UMKM. Hal ini tentunya memengaruhi ekonomi tidak hanya keluarga, tapi juga negara.

 

Dari artikel di bisnis.com, Bank Indonesia menyebutkan sebanyak 87,5 persen UMKM terdampak pandemi Covid-19. Dari jumlah ini, sekitar 93,2 persen di antaranya terdampak negatif di sisi penjualan. Hal ini bisa jadi sebuah pukulan yang cukup telak bagi perekonomian bangsa.

 

Ketiga, perempuan sebagai tulang punggung keluarga. Salah satu efek besar dari pandemi adalah banyaknya orang kehilangan pekerjaan. Ada yang perusahaannya tutup, banyak pula yang terkena pengurangan karyawan. 

 

Kemudian skenario yang banyak terjadi adalah, jika sepasang suami istri keduanya bekerja dan yang kehilangan pekerjaan adalah suami, maka istri otomatis menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Sementara jika istri tidak bekerja, maka banyak yang kemudian mengerahkan kemampuan mereka untuk mencari nafkah sementara Sang Suami berusaha bangkit dari keterpurukan. Contoh, berjualan makanan, membuka bisnis online, atau bergabung dalam bisnis dari rumah seperti multi level marketing. 

 

Bukan hal yang aneh jika kemudian suami membantu mengembangkan bisnis istri. Karena sejatinya, dalam pernikahan harus ada kerja sama, bukan?

 

Keempat, jumlah kerugian ekonomi dunia saat pandemi merosot jauh. Dilansir dari CNN Business, laporan baru Oxfam mencatat, secara global, perempuan kehilangan pendapatan setidaknya US$800 miliar atau sekitar Rp11.600 triliun (asumsi kurs Rp14.500 per dolar AS) di tahun 2020. Angka itu berasal dari upah yang hilang bagi mereka yang bekerja secara formal di 98 negara. Kejatuhan ekonomi dari pandemi covid-19 berdampak lebih keras pada perempuan, yang secara tidak proporsional terwakili di sektor-sektor yang menawarkan upah rendah, sedikit tunjangan dan pekerjaan yang paling tidak aman. Itu mengakibatkan kerugian setidaknya US$800 miliar dalam bentuk upah yang hilang bagi mereka yang bekerja secara formal," kata Gabriela Bucher, Direktur Eksekutif Oxfam International.

 

 

Baca Juga : 4 Perempuan Hebat dalam Bidang Sosial Budaya

 

Dari penjelasan di atas, tampak jelas bahwa pandemi berdampak besar bagi kaum perempuan. Hal ini belum termasuk kehidupan privat seorang perempuan. Di Indonesia, selama pandemi, angka perceraian meningkat sekitar 5%. Kondisi ini tak hanya terjadi di Indonesia, contohnya di Amerika Serikat, situs penyedia jasa pembuatan kontrak hukum menyatakan pendapatan mereka dari dokumen perceraian naik hingga 34%. Atau di Inggris, sebuah Firma hukum mengaku telah memasukkan 12% lebih banyak dokumen permohonan perceraian selama Juli hingga Oktober tahun 2020, ketimbang periode yang sama pada 2019.

 

Yang unik dari angka perceraian ini adalah peningkatan signifikan terjadi pada jumlah perempuan yang memulai perceraian. Sekitar 76% kasus perceraian baru diajukan perempuan. Sebagai perbandingan, tahun 2019 persentasenya 60%.

 

Pandemi memang menimpa semua orang. Tua, muda, laki-laki, perempuan. Tapi dampaknya pada perempuan, sangat terlihat jelas. Kaum perempuan sendiri, bukan hanya berpangku tangan. Mengutip situs dpr.go.id , Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani ketika menjadi pembicara kunci diskusi webinar bertema “Peran, Kesiapan, dan Ketahanan Perempuan dalam Perang Melawan Covid-19 menjelaskan bahwa 60 persen dari UMKM Indonesia yang memproduksi hand sanitizer atau masker dimiliki atau dikelola oleh kaum perempuan. Bahkan, inisiasi gotong royong di pemukiman seperti menyediakan rumah singgah dan makanan untuk isolasi mandiri saudara-saudaranya yang sedang dalam pengawasan pun dilakukan oleh perempuan.


Sebuah quotes mengatakan, When women support each other, incredible things happen. Merujuk cerita di atas, rasanya quotes ini terpercaya, ya?

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

PEREMPUAN DAN KEBERAGAMAN

Perempuan mengambil peran besar dalam menjaga perdamaian dalam keragaman bangsa Indonesia. Kita mungkin sering sekali mendengar bahwa…

BERITA DUNIA08 July 2021

PUAN MAHARANI, MEMASAK DI ERA REFORMASI MENJADI INSPIRASI DI ERA PANDEMI

Ada pepatah yang mengatakan, “Memasaklah dari hati, itu kunci utama masakan jadi enak”. Mungkin pepatah ini yang jadi…

BERITA DUNIA15 October 2021

PEREMPUAN LEBIH KUAT MENGHADAPI PANDEMI?

Perempuan Lebih Kuat Menghadapi Pandemi?   Apakah ada yang pernah mendengar istilah man flu? Melansir dari Halodoc, Istilah “man…

BERITA DUNIA27 July 2021