BANGKITKAN NASIONALISME, PUAN MAHARANI DUKUNG PENUH FILM INDONESIA

Oleh Indira Suwarno

BERITA DUNIA28 October 2021

Bangkitkan Nasionalisme, Puan Maharani Dukung Penuh Film Indonesia

Source: shutterstock.com

Sepanjang sejarah, film Indonesia pernah mengalami pasang surut dalam berbagai hal, terutama jumlah produksi. Sejarah film Indonesia sendiri dimulai sebelum Indonesia merdeka, yakni pada 1926 lewat film Loetoeng Kasaroeng. Walaupun diproduksi oleh orang asing, tetapi ini merupakan film cerita pertama di Indonesia yang menampilkan cerita asli Indonesia. Loetoeng Kasaroeng diangkat dari legenda yang terkenal dari Jawa Barat yang berisi nasihat agar tidak memandang sesuatu dari kulitnya saja.

Seiring waktu berlalu, industri perfilman Indonesia pun kian maju. Ekosistem perfilman terbentuk beserta bioskop yang tersebar di berbagai wilayah Tanah Air. Namun, pada dekade 1990-an, dunia film Indonesia sempat terpuruk akibat banjirnya film impor di layar bioskop nasional. Puncaknya adalah pada tahun 1998, di mana hanya terdapat 4 judul film saja yang diproduksi pada tahun itu.

Saat ini, kondisi dunia perfilman nasional sudah membaik. Bahkan, sebelum pandemi Covid-19 hadir pada 2020, jumlah produksi film Indonesia sempat mencapai angka 146 judul film pada tahun 2018. Ini tentunya merupakan sebuah lompatan yang luar biasa karena berarti, para sineas mampu maju bersama masyarakat sebagai penonton film sehingga film Indonesia menjadi tuan di negara sendiri.

Selain itu, film sebagai sebuah media juga memiliki fungsi untuk menyampaikan pesan maupun mempengaruhi penontonnya. Oleh karena itu, film-film di seluruh dunia sering digunakan untuk menghadirkan pesan positif, termasuk pesan nasionalisme kepada penonton milenial.

Ketua DPR RI, Puan Maharani mengatakan, sebagai Ketua DPR dia akan terus mendukung pengembangan film-film Indonesia untuk membangun bangsa ke depan. Tak cukup dengan bernarasi, Puan sempat mewujudkan dukungannya itu dengan turut membintangi film Nagabonar Reborn produksi tahun 2019.

Dalam film itu, Puan berperan menjadi relawan utusan Soekarno yang mengabarkan kemerdekaan Republik Indonesia ke pelosok-pelosok nusantara. Meski bukan peran utama, Puan mengaku sungguh-sungguh berakting dalam film perdananya ini. Apalagi, proses syuting dilakukan di wilayah Simalungun, Sumatera Utara, sekitar 200 kilometer dari Medan. Di tengah jadwalnya yang amat padat, Puan tetap berupaya menghadiri proses syuting dan berkomitmen dengan naskah yang diberikan kepadanya.

“Dari Jakarta ke Kualanamu, di pesawat saya sudah baca bolak-balik script-nya buat hapalin dialog,” ujar Puan seperti yang dikutip oleh Tempo.

Tidak hanya menghapal skenario, Puan harus beberapa kali take gambar, sampai mendapatkan hasil yang paling maksimal. Menurutnya, itu adalah hal yang wajar demi mendapatkan hasil yang terbaik.

“Memang apapun kerja kita, harus maksimal usahanya supaya maksimal hasilnya,” ucapnya.

Kenapa Puan akhirnya mau bermain film? Menurutnya, film Nagabonar Reborn yang turut dibintanginya itu merupakan contoh film yang mengangkat semangat nasionalisme. Ia berharap film-film seperti itu akan mampu menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai Tanah Air.

Menurut Puan, film Nagabonar Reborn juga menekankan semangat pantang mundur untuk tetap bisa menjaga Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang.

“Kita lagi mendukung film Indonesia, kemudian film ini juga dimainkan dan diperankan anak muda yang sangat berbakat. Jadi, ini film yang saya rasa salah satu film yang wajib untuk ditonton,” ujar Puan seperti dikutip oleh Antara.

Ia menilai film Nagabonar Reborn merupakan salah satu film yang wajib untuk ditonton karena menceritakan tentang semangat nasionalisme dari seorang anak bangsa, sayang orangtua dan cinta Tanah Air. Puan mengatakan, melalui film-film seperti Nagabonar Reborn, masyarakat diingatkan perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dan generasi dulu untuk memerdekakan Indonesia. Ia juga mengaku amat mendukung film-film karya anak bangsa Indonesia yang bisa mendorong dunia perfilman nasional agar terus berkembang.

Nah selain Nagabonar Reborn, sineas Indonesia juga pernah memproduksi film-film bertema perjuangan yang tak kalah menariknya. Dari catatan filmindonesia.id, terdapat 35 judul film perang atau film perjuangan yang pernah diproduksi sejak industri film Indonesia hadir pada 1926. Ada yang menghadirkan kisah fiksi seperti Nagabonar, ada pula yang menghadirkan kisah nyata perjuangan tokoh-tokoh besar di Indonesia.

Berikut ini adalah judul-judul film bertema perjuangan tersebut, diurutkan dari film yang terlama hingga yang terbaru:

1.     Enam Djam di Djogdja (1951)

2.     Sehelai Merah Putih (1960)

3.     Aksi Kalimantan (1961)

4.     Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961)

5.     Penjeberangan (1963)

6.     Daerah Tak Bertuan (1963)

7.     Anak-anak Revolusi (1964)

8.     Teror di Sulawesi Selatan (1964)

9.     Ekspedisi Terakhir (1964)

10. Diambang Fadjar (1964)

11. Madju Tak Gentar (1965)

12. Perawan di Sektor Selatan (1971)

13. Mereka Kembali (1972)

14. Pahlawan Goa Selarong (1972)

15. Bandung Lautan Api (1974)

16. November 1828 (1978)

17. Singa Lodaya (1978)

18. Janur Kuning (1979)

19. Kereta Api Terakhir (1981)

20. Serangan Fajar (1981)

21. Pasukan Berani Mati (1982)

22. Lebak Membara (1982)

23. Tapak-tapak Kaki Wolter Monginsidi (1982)

24. Tujuh Wanita Dalam Tugas Rahasia (1983)

25. Kamp Tawanan Wanita (1983)

26. Komando Samber Nyawa (1985)

27. Soerabaia 45 (1990)

28. Merah Putih (2009)

29. Fronteira (2009)

30. Darah Garuda (Merah Putih II) (2010)

31. Hati Merdeka (Merah Putih III) (2011)

32. Jenderal Soedirman (2015)

33. Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon (2016)

34. Lasjkar di Tapal Batas (2016)

35. Merah Putih Memanggil (2017)

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

PEREMPUAN LEBIH KUAT MENGHADAPI PANDEMI?

Apakah ada yang pernah mendengar istilah man flu? Melansir dari Halodoc, Istilah “man flu” sudah ada di dalam kamus Oxford…

BERITA DUNIA27 July 2021

ASPEK PENTING DALAM PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Perempuan adalah penggerak bangsa. Sebagai bagian penting bagi pembangunan bangsa, perempuan telah mengambil berbagai peran di berbagai…

BERITA DUNIA22 September 2021

DAMPAK PANDEMI PADA PEREMPUAN

  Walaupun pandemi tidak mengenal gender, namun perlu diakui dampaknya sangat besar bagi kamu perempuan dan perempuan pun memiliki…

BERITA DUNIA11 June 2021