5 KENDALA YANG DITEMUI PEREMPUAN KALA MENJADI PEMIMPIN

Oleh Indira Suwarno

BERITA DUNIA09 July 2021

Kendala Perempuan Menjadi Pemimpin

Image hanya ilustrasi

Saat ini, posisi pemimpin tak lagi dimonopoli oleh kaum pria. Perempuan pun banyak yang menduduki posisi pemimpin di berbagai aspek kehidupan. Mulai dari perusahaan, bisnis, hingga politik dan pemerintahan. Indonesia bahkan pernah memiliki seorang presiden perempuan, yakni Megawati Soekarnoputri.

Sementara di era pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini, beberapa orang menteri perempuan turut menjadi bintang di kabinet karena memegang peranan penting dan strategis. Mereka  tak kalah bersinar dibandingkan kolega mereka, para menteri laki-laki.

Kemudian, di bidang legislatif, Indonesia untuk pertama kalinya memiliki Ketua DPR perempuan, yakni Puan Maharani. Sebelum menjadi Ketua DPR, Puan juga dikenal sebagai politikus ulung serta pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada 2014-2019.

Jadi, boleh dibilang, dalam mendudukkan perempuan sebagai pemimpin, Indonesia sudah memiliki pengalaman yang tak kalah dengan negara-negara maju di dunia.

Hal serupa juga terjadi di beberapa negara lain. Di Amerika Serikat, misalnya. Menurut data dari National Association of Women Business Owners (NAWBO) 2017, terdapat lebih dari 11 juta perusahaan yang dimiliki dan dikendalikan oleh kaum Hawa. Perusahaan-perusahaan yang dipimpin para perempuan ini berkontribusi sebanyak US$ 1,7 triliun kepada perekonomian AS.

Melihat data dan fakta itu, peran perempuan sebagai pemimpin tentu terpampang nyata. Namun tak bisa dimungkiri, untuk menjadi seorang pemimpin, perempuan umumnya memiliki lebih banyak hambatan ketimbang laki-laki.

Beragam kendala dihadapi perempuan untuk mampu menjadi seorang pemimpin andal. Tak hanya kendala pribadi tetapi juga kendala lingkungan kerja dan berbagai hal lainnya. Beberapa kendala itu antara lain adalah:

 

1. Minoritas di Dunia yang Patriakis

Salah satu hal yang membuat seorang pemimpin perempuan merasa tak nyaman adalah saat menyadari bahwa ia adalah satu-satunya perempuan dalam sebuah rapat bisnis. Tekanan karena menjadi satu-satunya perempuan di antara para pria itu cukup membuat gentar juga, lho. Bahkan, penelitian menemukan bahwa jika Anda menjadi satu-satunya kaum minoritas di sebuah ruangan, Anda akan berpotensi menjadi obyek diskriminasi dari kaum mayoritas di situ, baik disengaja maupun tidak. Tak heran jika dihadapkan pada situasi seperti itu, kaum perempuan biasanya memilih untuk mundur dan mencoba tidak menonjolkan diri.

Meski begitu, sebagian besar pemimpin perempuan yang sukses berpendapat bahwa menjadi diri sendiri dan menonjolkan kekuatan dan kemampuan adalah kunci untuk membuktikan bagaimana perempuan seharusnya tampil dan berperilaku di lingkungan kerja.

 

2. Menyeimbangkan Kehidupan Pribadi dan Kesibukan Kantor

Para bos dan pemimpin perempuan pasti tak asing lagi dengan pertanyaan “Bagaimana sih cara mengatur waktu dan tenaga supaya  bisa sukses di kantor dan di rumah? Anak-anak dan suami siapa yang ngurus?”.

Apalagi di Indonesia, sistem patriarki masih sangat kuat. Perempuan dituntut untuk tetap mampu mengurus keluarga dengan baik meski ia sukses menjadi pemimpin di perusahaannya sendiri, misalnya. Sementara tuntutan untuk laki-laki tidak pernah seberat itu.

Di sinilah tantangan terbesar hadir. Untuk itu, dibutuhkan support system yang mampu mendukung seorang perempuan untuk bisa sukses di rumah maupun di kantor. Support system itu termasuk suami yang paham peran gender dalam kehidupan sehari-hari, pengasuh anak, asisten rumah tangga, hingga supir pribadi.

Selain itu, perbanyak waktu berkualitas ketimbang kuantitas karena waktu yang ada amat terbatas, bukan?

 

3. Stereotipe "Perempuan itu emosinal dan tidak tegas"

Salah satu stereotipe tentang bos perempuan adalah, emosional, moody, dan tidak tegas. Oleh karena itu, perempuan sering dianggap remeh dan dinilai tidak berkompeten untuk jadi pemimpin dibandingkan laki-laki.

Mungkin banyak perempuan yang kesal dengan anggapan seperti itu. Namun, jangan jadikan itu hambatan, melainkan anggap itu sebagai sebuah dorongan dan motivasi. Di dunia yang sangat kompetitif ini, keberagaman gender justru berujung pada kesempatan dan peluang yang menjanjikan. Kehadiran kaum Hawa dalam sebuah perusahaan mampu membawa sudut pandang, ide, dan pengalaman yang unik.

Hal-hal itu akan memperkaya diskusi dan membuat keputusan yang lebih baik. Sering kali Anda memang harus lebih mau dan mampu bersuara agar didengarkan. Namun, jika memang ide-ide itu penting dan bermanfaat, kenapa tidak?

 

4. Sulit Mendapatkan Rekan dan Mentor yang Mau Mendukung

Untuk bisa maju dan berkembang, seseorang harus punya mentor dan rekan yang mendukung di berbagai kondisi. Apalagi, di dunia bisnis, ada ungkapan berbunyi “yang paling penting itu bukanlah apa yang Anda ketahui, tapi siapa yang Anda kenal.”

Penelitian yang dilakukan NAWBO pada 2017 lalu menyebutkan, lebih dari 48% pebisnis perempuan mengaku sulit membangun jaringan pendukung di dunia yang didominasi laki-laki. Meski begitu, perempuan tetap memiliki kesempatan luar biasa untuk berkolaborasi dan membangun sistem pendukung yang kuat,

Misalnya, di Indonesia terdapat Iwapi atau Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia yang berdiri sejak 1975. Selain itu, masih banyak komunitas-komunitas lain yang juga tak kalah berpengaruhnya dalam memberikan dukungan kepada para perempuan di Indonesia di berbagai bidang.

Dengan bergabung bersama jejaring, komunitas, dan organisasi seperti ini, para pemimpin perempuan akan mendapatkan kesempatan untuk belajar dari kesuksesan para pendahulu, sekaligus menciptakan dan membangun koneksi dengan mentor-mentor potensial yang bisa mendukung dan memberikan nasehat maupun kritik membangun.

Selain itu, dukungan profesional juga bisa didapatkan dari para laki-laki. Tak sedikit kaum pria yang mau berbagi koneksi, nasehat, pengalaman, dan dukungan untuk para kolega mereka tanpa memandang jenis kelamin.

 

5. Kurang dihargai dan Tidak diperlakukan selevel dengan Laki Laki

Di dunia bisnis, politik, atau dunia apapun, kaum perempuan sering dianggap remeh, terutama jika menjadi pemimpin. “Apa sih yang dia bisa? Harusnya perempuan itu cukup di dapur saja,” begitu ungkapan yang sering dilontarkan saat seorang perempuan terpilih jadi pemimpin.

Ini tentunya kerap membuat frustrasi bagi kaum Hawa kala menjadi seorang bos. Apalagi di Indonesia, level pimpinan rata-rata masih didominasi kaum laki-laki.

Nah, jangan putus asa dulu. Justru anggapan dan sikap meremehkan seperti ini bisa dijadikan cambuk pribadi agar Anda bisa membuktikan bahwa perempuan bisa bekerja sebaik atau bahkan lebih baik daripada kaum pria.

Jika mampu membuktikan kinerja, semua yang meremehkan tadi akan terkejut dan tertampar oleh anggapan mereka sendiri. Dan tak ada hal yang lebih memuaskan dibandingkan ini, kan?

 

Dari lima kendala di atas, dapat disimpulkan bahwa perempuan memang terus menghadapi ketidaksetaraan gender di dunia kerja hingga saat ini. Namun, jika dilihat dari perspektif yang berbeda, kendala-kendala ini justru bisa memperkuat dan mendorong para pemimpin perempuan ke posisi yang lebih tinggi dan beragam.

Kendala-kendala ini akan mempersiapkan diri Anda untuk menjadi pemimpin yang tahan banting dan ulet. Selain itu, sebagai seorang perempuan, Anda memiliki keunggulan lain yakni insting yang kuat, sensitivitas, serta empati yang lebih tinggi.

Jangan lupa, jika sukses di posisi tertinggi di kantor, ciptakan lingkungan positif kepada sesama perempuan agar mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk sukses seperti Anda juga.

 

Semoga sukses selalu!

 

Bagikan artikel ini:

Lihat artikel lainnya

PERNIKAHAN DINI DAN MASA DEPAN PEREMPUAN

Selama beberapa tahun belakangan ini, pernikahan di usia muda menjadi tren tersendiri, terutama setelah para pelakunya berkampanye…

BERITA DUNIA28 August 2021

HOBI SELAMA PANDEMI PUAN MAHARANI

Pandemi COVID19 yang berkepanjangan telah membawa kehidupan jutaan orang seakan berhenti sejenak. Hal ini membuat banyak orang yang…

BERITA DUNIA29 September 2021

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN NASIHAT PUAN MAHARANI

Selama lebih dari setahun, pandemi Covid-19 menyebabkan para siswa dan mahasiswa terpaksa belajar dari rumah secara daring. Banyak…

BERITA DUNIA04 October 2021